MRT Jakarta menjadi salah satu simbol transformasi transportasi publik di ibu kota.
PerbesarRangkaian kereta MRT melintas menuju stasiun di Jakarta, Kamis (20/10/2022). Setelah penaikan pada 3 September 2022, rata-rata pengguna MRT per hari mengalami kenaikan rata-rata sebesar 3,8 persen dari 61.014 orang per hari menjadi 63.339 orang per hari. (/Angga Yuniar)
, Jakarta – Gubernur Provinsi Jakarta, Pramono Anung, mengklaim kualitas layanan MRT Jakarta kini tidak kalah dibandingkan sistem transportasi serupa di Jepang. Selain fasilitas yang semakin baik, budaya antre pengguna transportasi publik juga dinilai terus berkembang.
Menurut Pramono, MRT Jakarta telah menjadi salah satu simbol transformasi transportasi publik di ibu kota yang semakin modern dan terintegrasi.
“Kalau MRT, saya yakin banyak yang sudah menggunakannya. Kita sudah tidak kalah dengan MRT yang ada di Jepang, bahkan lebih rapi. Masyarakat kita juga sekarang mempunyai tradisi untuk mengantre,” kata Pramono di Menara Astra, Jumat (5/6/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jakarta saat ini tengah membangun konektivitas bawah tanah di kawasan Bundaran HI untuk memperkuat integrasi antarmoda dan kawasan bisnis di pusat kota.
Proyek tersebut akan menghubungkan sejumlah hotel dan pusat aktivitas di sekitar Bundaran HI, antara lain Grand Hyatt, Pullman, Mandarin Oriental, dan Hotel Indonesia Kempinski, dengan jaringan MRT Jakarta.
Menurut Pramono, jalur bawah tanah itu nantinya tidak hanya berfungsi sebagai akses pejalan kaki menuju stasiun MRT, tetapi juga akan menjadi ruang ekonomi yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Di bawah nanti akan ada pusat kegiatan UMKM dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya,” ujarnya.
Pembangunan Jalur Penghubung Bawah Tanah
PerbesarSuasana sepi saat Lebaran di salah satu stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta, Minggu (24/5/2020). Di tengah pandemi virus corona COVID-19, pengguna MRT terpantau sepi dan tak seperti libur Lebaran sebelumnya. (/Johan Tallo)
Pramono mengatakan pembangunan jalur penghubung bawah tanah tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan Jakarta sebagai kota modern yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi umum.
Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak lagi harus menyeberang jalan di permukaan untuk berpindah lokasi. Sebaliknya, mereka dapat langsung mengakses area bawah tanah yang terhubung dengan stasiun MRT serta berbagai bangunan di kawasan Bundaran HI.
“Itulah cikal bakal kota modern. Orang tidak lagi harus menyeberang di atas jalan, tetapi bisa langsung menuju MRT melalui jaringan bawah tanah yang terintegrasi,” kata Pramono.
