BeritaLokal, Jakarta – BeritaLokal, Jakarta, 5 Juni 2026, Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus bergerak dalam zona merah pada sesi pertama perdagangan saham hari ini, Jumat. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44, saham BBCA tidak terlalu menunjukkan pergerakan stabil. Pada penutupan sesi, saham BBCA ditutup melemah 5,53% menjadi Rp 5.125 per saham, dengan harga pembuka turun 100 poin ke Rp 5.325 dari penutupan sebelumnya. Harga saham BBCA berada di level tertinggi Rp 5.375 dan terendah Rp 5.100 per saham, dengan total frekuensi perdagangan sekitar 56.532 kali dan volume perdagangan saham 3.343.470 saham, nilai transaksi harian mencapai Rp 1,7 triliun. Kapitalisasi pasar BBCA naik menjadi Rp 631,78 triliun.
Selain itu, IHSG mengalami penurunan 2,53% menjadi 5.692,15, dengan indeks saham LQ45 terpangkas 2,46% menjadi 566,63. Pada sesi pertama, IHSG sempat mencapai level tertinggi 5.860,67 dan terendah 5.673,92. Koreksi IHSG terjadi di tengah 588 saham melemah, sementara 111 saham menguat dan 109 saham diam. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.322.798 kali dengan volume perdagangan saham 25,3 miliar saham, nilai transaksi harian Rp 21,1 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan koreksi saham BBCA terjadi karena risiko indepenensi yang memengaruhi emiten perbankan. Menurut data RTI, ada outflow sekitar Rp 23 triliun year to date (Mei 2026), menunjukkan potensi koreksi jangka panjang. IHSG mencermati ruang koreksi untuk BBCA secara teknis.
Di sisi lain, BCA sukses membukukan laba bersih Rp 14,7 triliun pada kuartal I 2026. Penyaluran kredit positif mencapai Rp 994 triliun, naik 5,6% YoY, didukung pendanaan CASA (dana giro dan tabungan) sebesar Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2% YoY. Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari DPK BCA. Kredit produktif mencapai Rp 760,2 triliun, naik 7,8% YoY. Kredit hijau tumbuh 7,7% YoY menjadi Rp 113 triliun, dengan penyaluran pembiayaan EBT naik 53,5% YoY.
Dalam kuartal I 2026, BCA menjaga kinerja solid di tengah kondisi global dinamis. Rasio LAR (loan at risk) dan NPL (non-performing loan) tetap stabil di level 5,1% dan 1,8%, sementara pencadangan LAR dan NPL pada level solid. DPK BCA mencapai Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3% YoY. Kredit hijau mengalami pertumbuhan signifikan di sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT), dengan penyaluran pembiayaan ke sektor ini mencapai Rp 258,4 triliun atau 26% dari portofolio BCA. Peningkatan kredit UMKM sebesar 12% YoY dengan outstanding Rp 146 triliun.
Sementara itu, pihak BCA tetap memperkuat program ESG untuk menjaga keandalan bisnis. Kredit hijau terus berkembang, dengan penyaluran pembiayaan ke sektor berkelanjutan tumbuh 10% YoY menjadi Rp 258,4 triliun. Dengan demikian, BCA terus menunjukkan visi untuk menggerakkan ekonomi secara prudensia di tengah dinamika pasar global.
Artikel Terkait
Gubernur BI Mundur Mendorong Kepercayaan Pasar
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
ASML Tawarkan Bonus Karyawan 20.000 Euro
21 Juli 2026
Harga Emas Bersiap Turun Lagi, Data Ekonomi AS Dominasi
16 Juli 2026
Rating S&P Menyok IHSG, Pasar Berputar ke 2% Kenaikan
16 Juli 2026
IPO RANS: Bukti Industri Kreatif Indonesia
15 Juli 2026
Harga Emas Turun 3%, Analis Prediksi Capai $3.500
14 Juli 2026
Saham Circle Melonjak Usai Mendapat Izin Bank
12 Juli 2026
Memuat komentar...