BeritaLokal, Jakarta – Indonesia Punya Modal Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia, Ini Buktinya mulai terpatri di layar acara peresmian International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC) 2026, yang diselenggarakan di Markas World Bank, Washington, D.C., Amerika Serikat. Dalam rangka memperlihatkan potensi besar Indonesia, pembicara utama mengajukan fakta kuantitatif mengenai populasi Muslim, nilai industri keuangan Islam, maupun inovasi fintech syariah yang kini bergerak ke depan.
Potensi Ekonomi Syariah Global
IFESDC 2026 mengumpulkan akademisi, pembuat kebijakan, lembaga keuangan, organisasi filantropi, dan pelaku industri berjenjang internasional. Di antara peserta terkemuka, Universitas Indonesia, Universitas Tazkia Bogor, Dompet Dhuafa, CTIS Jakarta, University of Pennsylvania, Columbia University, Georgetown University, IMAAM Center Maryland, serta Islamic Bank of Thailand hadir bersama World Bank. Forum tersebut bertujuan menyusun strategi memasukkan ekonomi dan keuangan Islam sebagai pendorong pembangunan berkelanjutan, inklusif, dan adil. Ditengahnya, data memamerkan bahwa sebanyak 700‑miliar orang tetap hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara nilai industri keuangan Islam global telah mencapai US$ 3,6 triliun namun belum dimanfaatkan secara optimal, terutama di negara berkembang. Di tengah tantangan tersebut, Indonesia dengan lebih dari 240 juta penduduk Muslim berada pada posisi strategis untuk memimpin inovasi ekonomi syariah-meskipun pangsa industri keuangan syariah nasional masih sekitar 10‑11 %.
Digitalisasi, Zakat, dan Fintech Syariah
Seiring dengan pertumbuhan industri nasional, pemerintah melalui pembentukan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) serta penguatan Bank Syariah Indonesia (BSI) telah menegaskan inisiatif untuk menyalurkan modal syariah kepada proyek pembangunan. Penerbitan sukuk negara yang telah melampaui US$ 120 miliar menunjukkan kontribusi signifikan keuangan syariah dalam infrastruktur berkelanjutan. Menjumlahkan teknologi, IFESDC menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi dan pemanfaatan fintech syariah sebagai solusi mencapai 1,4 miliar penduduk global yang belum terjangkau perbankan konvensional. Tambahan lagi, potensi zakat Indonesia diperkirakan mencapai US$ 20 miliar per tahun, namun realisasinya masih di bawah US$ 1 miliar. Keberhasilan mengoptimalkan zakat memerlukan tata kelola yang kuat, sistem digital yang terintegrasi, dan peningkatan literasi keuangan di masyarakat.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar tidak hanya demografis, namun juga kapabilitas riset, inovasi digital, dan instrumen keuangan syariah. Ia menekankan kolaborasi lintas negara sebagai kunci agar ekonomi syariah dapat memberikan manfaat luas dalam mengatasi tantangan pembangunan global. Menurutnya, melalui kerja sama internasional, riset, serta penggunaan teknologi, Indonesia dapat menjadi pusat pengembangan solusi ekonomi yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi masyarakat global.
Forum IFESDC juga membahas bahwa pada tahun 2025 ekonomi Islam telah melayani sekitar 2 miliar penduduk dunia dengan kapasitas mencapai US$ 6 triliun. Sektor terbesar adalah makanan halal (US$ 1,5 triliun), disusul fesyen (US$ 347 miliar) dan media serta rekreasi (US$ 276 miliar). Peningkatan kontribusi tersebut menandakan ekonomi syariah telah menjadi ekosistem global yang mengedepankan prinsip keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan sosial. Produk-produk halal kini menjadi komponen penting dalam rantai pasok global, di mana konsumen semakin sadar akan asal-usul dan ketaatan terhadap prinsip etika.
Khusus dalam konteks Indonesia, kolaborasi antara lembaga pendidikan tinggi, lembaga pelatihan, dan pabrikan fintech syariah menjadi tes emulasi. Datalengkapnya menandakan bahwa investasi riset dan pengembangan produk baru-mulai dari Islamic e-commerce hingga insurtech syariah-akan mengisi kebutuhan yang belum terlayani. Dengan menjalankan strategi ini secara terkoordinasi, Indonesia dapat memperkuat posisi sebagai pemimpin regional sekaligus pijakan bagi integrasi pasar keuangan syariah di tingkat global.
Pada akhirnya, peran Indonesia dalam konferensi IFESDC 2026 menegaskan bahwa selain memanfaatkan modal demografis, negara ini telah mempersiapkan landasan struktural-dari regulasi hingga teknologi-yang mendukung visinya menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Peningkatan jumlah produk sukuk, pengoptimalan zakat, serta pemanfaatan fintech sebagai jembatan inklusi keuangan menjadi kunci konkrit dalam meraih hal tersebut.
Artikel Terkait
Thom Haye Rekan Meriahkan Piala AFF dengan 3 Assist
27 Juli 2026
Piala AFF 2026: Nilai Pasar Timnas Indonesia Termahal
27 Juli 2026
Tempat Menonton Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari
27 Juli 2026
Kerja Migran Indonesia di Malaysia Porsi 50,6%
27 Juli 2026
Pos Indonesia Bayar Imbal Hasil Sukuk Rp 24,1 Miliar
27 Juli 2026
Orkestra TRUST Raih Juara Utama di Beijing 2026
27 Juli 2026
Super El Niño Memaksa Indonesia Rentan Inflasi Global
27 Juli 2026
Indonesia Juara China Open 2026, Ganda Putra Mencetak Sejarah
27 Juli 2026
Memuat komentar...