IHSG Turun Hampir 30% Sejak Awal Tahun, OJK Pastikan Masih Tahan Banting

BeritaLokal, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 30 persen secara year-to-date (YTD) hingga mencapai level 6.127,38 pada akhir Mei 2026. Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan likuiditas pasar modal Indonesia tetap stabil dan terjaga meskipun tekanan ekonomi global dan domestik masih berdampak.

Dalam konferensi pers hasil RDKB Mei 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, IHSG ditutup di level 6.127,38 pada akhir Mei 2026, terkoreksi sebesar 11,92 persen secara month-to-month atau 29,14 persen YTD. “Fase konsolidasi masih berlangsung dan akan menjadi perhatian regulator dalam beberapa waktu ke depan,” kata Fawzi.

Pasar saham Indonesia mengalami tekanan sejak awal Mei 2026, dengan volatilitas tinggi yang terus memengaruhi sentimen investor. Meski demikian, OJK menegaskan bahwa kondisi pasar tetap sehat meskipun ada pergeseran harga saham. Indikator likuiditas pasar, seperti rata-rata BID (Bearing Index Data) dan spread saham, tetap rendah di kisaran 1,5 persen selama Mei 2026. Angka ini menunjukkan aktivitas perdagangan masih baik meskipun tekanan pasar meningkat.

Dalam interwew, Fawzi menyebutkan bahwa faktor global seperti dinamika ekonomi domestik dan arus modal asing menjadi pendorong utama pergerakan IHSG. “Perkembangan pasar global, arus modal asing, serta dinamika ekonomi Indonesia terus memengaruhi arah pasar saham,” kata dia. Meski ada aksi jual bersih (net sell) dari investor asing sebesar Rp 4,1 triliun per bulan, OJK menilai pasar domestik mampu menyerap tekanan tersebut tanpa mengganggu stabilitas perdagangan secara keseluruhan.

Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG turun 7,9% ke level 5.996,14 pada Selasa (8/4/2025). Namun, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 4,1 triliun per bulan selama Mei 2026. “Aksi keluar dana asing menjadi faktor menambah tekanan pada IHSG, tetapi pasar domestik mampu menyerap tekanan tanpa mengganggu stabilitas perdagangan,” kata Fawzi.

OJK memastikan bahwa likuiditas pasar modal Indonesia masih terjaga baik meskipun ada koreksi tajam. Dalam rangka menjaga kestabilan, regulator tetap memantau dinamika pasar dan memperkuat koordinasi dengan pihak terkait untuk mencegah kerentanan yang dapat mengganggu sistem keuangan.

Artikel Terkait

0