[BeritaLokal], Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 3,7% pada awal sesi kedua perdagangan saham Senin, 8 Juni 2026, menunjukkan kecenderungan negatif yang berkelanjutan dalam pasar saham Indonesia. Data yang dipantau oleh RTI pada pukul 13.37 WIB menunjukkan IHSG turun 3,61% ke level 5.392, sementara pada pukul 13.45 WIB, penurunan mencapai 3,80% atau turun menjadi 5.382. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terfokus pada sesi pertama, tetapi juga berlanjut secara signifikan di sesi kedua.
Pada awal sesi kedua, IHSG telah berada di level tertinggi 5.523,94 dan terendah 5.346,33, menunjukkan rentang fluktuasi yang cukup besar dalam waktu singkat. Dalam sesi tersebut, sebanyak 662 saham melemah, membawa beban negatif terhadap indeks, sementara hanya 73 saham yang menguat dan 76 saham yang tetap stabil. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.462.916 kali, dengan volume perdagangan mencapai 21 miliar saham dan nilai transaksi harian mencapai Rp 13,8 triliun. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran 18.173, yang sejalan dengan sentimen pasar global yang menguatkan tekanan pada nilai tukar dan saham.
Secara sektor, seluruh indeks saham acuan tertekan. Sektor energi melemah 2,43%, basic material turun 2,20%, industri mengalami penurunan 4,39%, dan consumer nonsiklikal turun 3,75%. Di sisi lain, sektor consumer siklikal mengalami penurunan paling signifikan sebesar 4,55%, sektor kesehatan melemah 2,98%, properti turun 2,48%, teknologi melemah 2,93%, infrastruktur turun 5,74%, dan transportasi turun 4,07%. Penurunan sektor infrastruktur dan transportasi menjadi pendorong utama kejatuhan IHSG, mengingat sektor-sektor ini memiliki peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Di antara saham komponen utama, BBCA mengalami penurunan 3,05% menjadi Rp 4.920 per saham, setelah dibuka turun menjadi Rp 4.950 dari penutupan sebelumnya Rp 5.075. BBCA bergerak di rentang Rp 4.850 hingga Rp 5.050, dengan total frekuensi perdagangan 75.441 kali dan volume 4.492.217 saham, serta nilai transaksi Rp 2,2 triliun. Sementara itu, saham ICBP turun 5,04% menjadi Rp 6.125 per saham, dibuka turun 25 poin dari Rp 6.450, dengan rentang harga Rp 6.100 hingga Rp 6.425, total frekuensi 2.726 kali, volume 24.391 saham, dan nilai transaksi Rp 15,2 miliar.
Pergerakan IHSG pada sesi kedua ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang semakin memperkuat sentimen negatif, sejalan dengan dinamika global yang mengalami ketegangan ekonomi, serta kecemasan terhadap kinerja makroekonomi dan kebijakan fiskal. Dengan penurunan signifikan di sektor-sektor strategis dan penurunan harga saham utama, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga fundamental dan struktural.
Artikel Terkait
Rupiah Tegar Tambah Lebih 18,093, Pasar Tunggu Gubernur BI
28 Juli 2026
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Bank Indonesia Mantap Kebijakan Stabil Menenangkan Pasar
27 Juli 2026
Rupiah Ringan Menurunkan 9 Poin Setelah Gubernur BI Mundur
27 Juli 2026
Harga Emas Antam Melambung Rp 10.000 pada 27 Juli 2026
27 Juli 2026
Gubernur BI Mundur Mendorong Kepercayaan Pasar
27 Juli 2026
Bank Indonesia Jadi Pusat Tangguh, Jaga Stabilitas Rupiah
27 Juli 2026
Fed Tetap Jaga Suku Bunga di Tengah Gejolak Pasar
26 Juli 2026
Memuat komentar...