BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia menguat kembali setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Iran jika kesepakatan damai tidak berjalan baik. Perkembangan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, meski perjanjian antara Amerika Serikat dan Teheran masih belum final.
Selain ancaman Trump, ketegangan di kawasan Timur Tengah tetap mengguncang pasar. Pernyataan Trump memicu risiko kembali terjadi konflik, sebab meskipun AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, mereka masih menunggu persetujuan final. Pernyataan Trump yang menyebutkan “jika Iran tidak berperilaku baik” mengingatkan pasar bahwa situasi belum stabil.
Harga minyak Brent naik 0,75% menjadi US$ 79,55 per barel, sementara WTI melonjak 0,97% ke US$ 76,79. Penurunan stok minyak AS mencapai level terendah sejak 1985 karena permintaan meningkat di tengah ketegangan geopolitik. Perusahaan energi Lipow Oil Associates mengatakan negara-negara lain juga memperkuat cadangan strategis untuk mengurangi dampak gangguan pasokan.
Situasi di Timur Tengah masih tidak stabil, dengan serangan udara Israel dan tembakan artileri terjadi di Lebanon. Konflik antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran belum selesai, meski perjanjian awal menuntut penghentian permusuhan. Perkembangan ini memperparah kekhawatiran bahwa krisis energi bisa meluas, mengganggu distribusi minyak global.
Prospek jangka panjang menunjukkan tantangan besar. IEA menyebutkan pasokan dunia akan meningkat 8 juta barel per hari pada 2027, meski permintaan hanya bertambah 2 juta barel. Analis Empire FX mengkritik pasar yang mungkin belum memperhitungkan risiko surplus pasokan, yang bisa mengganggu harga minyak di masa depan.
Pertumbuhan harga minyak terkait dengan ketegangan antara AS dan Iran, serta kekhawatiran pasokan global. Meski perjanjian masih belum final, ancaman Trump memperkuat tekanan pada pasar, menggambarkan kondisi yang dinamis di kawasan strategis.