BeritaLokal, Jakarta – Harga Emas Anjlok ke Level Terendah 6 Bulan
Harga emas dunia kembali mengalami tekanan terparah dalam enam bulan terakhir, mencapai level terendah sejak November 2025. Peristiwa ini dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang mungkin menaikkan suku bunga atau mempertahankan arah kebijakannya. Kondisi ini juga berdampak pada pergerakan pasar komoditas lain, seperti energi dan logam, akibat kenaikan inflasi global yang terus meningkat.
Berdasarkan laporan CNBC (12/6/2026), kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus sempat menyentuh US$ 4.046,20 per ounce pada perdagangan Kamis, menciptakan level terendah sejak November tahun lalu. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun sekitar 6,3 persen. Jika tren ini berlanjut, penurunan tersebut akan menjadi pelemahan mingguan kedua secara berturut-turut dan kinerja terburuk sejak pertengahan Maret, ketika harga emas merosot hampir 9,62 persen.
Harga emas kini berada di level US$ 4.111,10 per ounce, menunjukkan tekanan yang terus memperparah. Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai, pergerakan harga emas sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga riil jangka panjang. Kondisi ini membuat pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun 2026.
Inflasi Naik, Pasar Khawatir The Fed Ubah Arah Kebijakan
Kenaikan inflasi konsumen AS pada Mei 2026 mencapai laju tercepat dalam tiga tahun terakhir, dipicu oleh lonjakan harga energi dan komoditas lainnya. Di sisi lain, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan perkiraan pasar, memperkuat tekanan untuk The Fed melakukan pemangkasan suku bunga.
Pertemuan The Fed pada pekan depan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Kombinasi faktor inflasi dan tekanan geopolitik, terutama konflik Iran yang kini masuki bulan keempat, menjadi pemicu utama perubahan kebijakan. Survei ekonom menilai mayoritas memperkirakan suku bunga tidak akan berubah sepanjang tahun 2026, meski beberapa analis menyebutkan kemungkinan pemangkasan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Tekan Harga Emas
Pertumbuhan kembali mengarah pada peluang kenaikan suku bunga The Fed, dengan pasar memperkirakan sebesar 67% kemungkinan meningkatkan suku bunga pada Desember mendatang. Jika terjadi, aset berbasis dolar seperti obligasi pemerintah atau Treasury akan menjadi lebih menarik dibandingkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan teknikal juga memengaruhi pergerakan harga emas. Harga emas baru saja menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) untuk pertama kalinya sejak September 2023, mengindikasikan sinyal negatif bagi jangka pendek. Analis Citigroup memperkirakan kondisi ini adalah indikator kuat yang mungkin memengaruhi pergerakan harga emas dalam waktu dekat.
JPMorgan: Investor Mulai Tinggalkan Debasement Trade
Laporan JPMorgan menunjukkan penarikan dana secara luas dari strategi “debasement trade”-sebuah strategi yang memprediksi kenaikan suku bunga atau pelemahan nilai mata uang. Dalam laporan terbarunya, investor ritel dan institusi mulai mengurangi eksposur terhadap emas sejak konflik di Timur Tengah meningkat pada Maret lalu.
Dana keluar dari ETF emas mencapai US$ 20 miliar hingga pekan berakhir 5 Juni, meski ada peningkatan arus masuk sebelumnya. Di pasar kontrak berjangka, posisi investor juga terus mengurangi eksposur terhadap emas. JPMorgan memperkirakan pola ini terus berlangsung hingga akhir pekan ini.
Harga emas kini berada di level US$ 4.111,10 per ounce, dengan tekanan inflasi dan kebijakan moneter menjadi faktor utama dalam pergerakannya.