Kesepakatan dengan Google ini menyerupai langkah SpaceX pada akhir Mei 2026 dengan Anthropic,.
PerbesarLogo bergambar wayang menghiasi ornamen Google Indonesia di Jakarta, Jumat (30/3). ©2012 Merdeka.com
, Jakarta – Menjelang penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa Nasdaq, SpaceX menuai perhatian industri teknologi dunia.
Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk ini baru saja mengamankan kesepakatan komputasi bernilai tinggi dengan raksasa mesin pencari, Google. Dalam dokumen regulasi yang dirilis Jumat lalu, Google sepakat membayar SpaceX sebesar USD 920 juta atau sekitar Rp 16,6 triliun per bulan.
Kontrak fantastis ini dijadwalkan berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. Melalui kerja sama tersebut, Google akan mendapatkan akses superkomputer berupa 110.000 unit GPU NVIDIA, CPU, memori, serta komponen pendukung mutakhir lainnya milik SpaceX.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) milik Google yang tengah menghadapi lonjakan permintaan global. Kesepakatan dengan Google ini menyerupai langkah SpaceX pada akhir Mei 2025 dengan Anthropic, perusahaan rintisan AI saingan berat OpenAI.
Dalam kerja sama tersebut, Anthropic sepakat menggelontorkan USD 1,25 miliar (sekitar Rp 22,6 triliun) per bulan hingga tahun 2029 demi menyewa seluruh kapasitas komputasi di pusat data Colossus 1 dekat Memphis, Tennessee. Pusat data ini awalnya dibangun oleh xAI yang kini melebur ke dalam SpaceX untuk pengembangan AI internal mereka.
Meskipun nilai kontrak Google mencapai separuh dari kapasitas yang diakses Anthropic di Colossus 1, SpaceX belum membeberkan lokasi pusat data spesifik yang akan digunakan Google. Elon Musk sebelumnya sempat mengisyaratkan bahwa pusat data Colossus 2 akan dicadangkan khusus untuk kepentingan xAI.
Perbedaan fundamental terlihat dari posisi kedua penyewa ini. Sebelum bermitra dengan SpaceX, Anthropic langsung menaikkan batas penggunaan layanannya di hari pengumuman kontrak.
Sebaliknya, Google berada di posisi yang jauh lebih superior, bahkan beberapa estimasi menyebut Google sebagai pemilik tunggal komputasi AI terbesar di dunia saat ini.
Juru bicara Google menyatakan bahwa langkah ini diambil menyusul lonjakan permintaan yang tidak terduga terhadap produk AI teranyar mereka.
“Google Cloud dan SpaceX adalah mitra lama,” tulis perwakilan Google dalam pernyataan resminya, dikutip dari Techcrunch, Minggu (7/6/2026).
“Ini adalah perjanjian jangka pendek untuk memastikan kami memiliki bridge capacity guna memenuhi lonjakan permintaan pelanggan terhadap platform agen kami, Gemini Enterprise, yang ternyata jauh lebih tinggi dari perkiraan,” ia menambahkan.
Ambisi Besar di Balik Lonjakan Belanja Alphabet
Induk perusahaan Google, Alphabet, memang tengah jor-joran dalam belanja modal. Tahun ini saja, Alphabet telah berkomitmen menggelontorkan lebih dari USD 180 miliar (sekitar Rp 3.257 triliun) dan diproyeksikan melonjak signifikan pada 2027.
Demi menopang kebutuhan dana super besar tersebut, Alphabet menjual saham senilai USD 80 miliar (sekitar Rp 1.447 triliun). Menariknya, dokumen Securities and Exchange Commission (SEC) menunjukkan adanya klausul pembatalan dalam kontrak ini. Baik SpaceX maupun Google memiliki opsi untuk mengakhiri perjanjian dengan pemberitahuan 90 hari setelah 31 Desember 2026.
Akses Google ke pusat data ini akan dimulai secara bertahap hingga September 2026 dengan tarif yang dikurangi.
“Jika kami gagal menyediakan akses ke jumlah GPU yang dijanjikan per 30 September 2026, setelah masa tenggang satu bulan, Google dapat langsung mengakhiri perjanjian atau menerima jumlah GPU yang tersedia dengan pengurangan biaya bulanan,” bunyi dokumen pengajuan tersebut.
Karpet Merah Menuju IPO Terbesar dalam Sejarah
Pengumuman mega-kontrak ini meluncur hanya satu minggu sebelum saham SpaceX resmi melantai di bursa Nasdaq. SEC menunjukkan SpaceX membidik dana segar sekitar USD 75 miliar (sekitar Rp 1.357) dengan target valuasi perusahaan mencapai USD 1,75 triliun (sekitar Rp 31.667 triliun). Angka ini bakal menobatkan IPO SpaceX sebagai yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal.
Hubungan kedua raksasa ini sebenarnya telah mengakar lama. Google merupakan investor awal SpaceX, di mana nilai saham Google di perusahaan Musk tersebut diperkirakan akan menembus USD 100 miliar pasca-IPO.
Tak berhenti di situ, kedua perusahaan kabarnya sedang menegosiasikan proyek ambisius lainnya: membangun pusat data berbasis orbit Bumi yang menjadi pilar utama rencana masa depan SpaceX setelah berstatus perusahaan publik.
