BeritaLokal, Jakarta – PT Soechi Lines Tbk (SOCI) mengakuisisi fasilitas pembiayaan subordinasi sebesar Rp 3 triliun dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Fasilitas ini akan digunakan untuk penyediaan dana cadangan atau pembayaran pendanaan yang direncanakan. Penandatanganan kerangka kerja ini dilakukan dalam rangka mendukung kelangsungan operasional perseroan selama jangka panjang, menurut Direktur dan Sekretaris Perusahaan SOCI, Paula Marlina.
Menurut Paula, penandatanganan fasilitas pembiayaan subordinasi bertujuan untuk memastikan ketersediaan dana cadangan dalam skenario pendanaan yang akan datang. “Tujuan utamanya adalah mendukung kebutuhan pembayaran atau dana cadangan terkait rencana pendanaan perseroan,” katanya. Fasilitas pembiayaan ini memiliki jangka waktu hingga Desember 2037 dan disebut sebagai “line facility” dalam model musyarakah refinancing.
Pada penutupan perdagangan saham Jumat (29 Mei 2026), harga saham SOCI naik 5,85% menjadi Rp 398 per saham. Harga tertinggi mencapai Rp 412 dan terendah Rp 376. Total frekuensi perdagangan sebanyak 2.104 kali dengan volume perdagangan 128.415 saham, menghasilkan nilai transaksi harian sekitar Rp 5,1 miliar.
Selain itu, SOCI menyatakan bahwa penandatanganan fasilitas pembiayaan tidak menimbulkan dampak hukum atau material terhadap kondisi keuangan perusahaan. “Tidak ada faktor yang dapat mempengaruhi kinerja finansial perseroan secara signifikan,” kata Paula.
Di sisi lain, situasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela masih dianggap tidak berdampak langsung pada biaya logistik industri pelayaran. Corporate Secretary SOCI, Paula Marlina, menjelaskan bahwa sebagian besar armada perusahaan beroperasi dalam model time charter. “Karena kebanyakan kapal kami sudah memiliki kontrak jangka panjang, fluktuasi geopolitik global tidak memengaruhi biaya operasional secara langsung,” katanya.
Fokus pelayaran SOCI tetap di perairan domestik Indonesia, terutama untuk pengangkutan minyak dan gas bumi. Jalur pelayaran yang digunakan sebagian besar berada di wilayah dalam negeri, sehingga kurang terpapar konflik internasional seperti perang Rusia-Ukraina atau ketegangan antara AS dan Venezuela. “Jadi, jalur pelayarannya utamanya intra-island Indonesia, sehingga konflik di kawasan Timur Tengah tidak berdampak signifikan pada operasional perseroan,” terangkan Paula.
Meski demikian, perusahaan tetap memantau dinamika geopolitik global sebagai antisipasi terhadap potensi perubahan yang bisa mempengaruhi bisnis pelayaran. “Kita masih mengantisipasi dampak jangka panjang dari konflik internasional,” kata Paula.
Artikel Terkait
Sistem Resi Gudang Ikan Kayu Ikan Asap Jadi Jaminan Usaha
26 Juli 2026
Hunian Terjangkau di Serang Tingkatkan Ekosistem Industri
24 Juli 2026
Kredit Perbankan Tak Terpakai – Rp 2,490 Triliun Tertangguh
23 Juli 2026
PIP Bantu 14,9 Juta UMKM Dapatkan Rp 65 Triliun
16 Juli 2026
Sukuk Pembiayaan Green di Jakarta: Target Rp10 Triliun
12 Juli 2026
Taylor Swift & Kelce Donasi Rp 460 Miliar Sebelum Pernikahan
3 Juli 2026
BRI sambut dana pemerintah untuk perkuatan pembiayaan UMKM
29 Juni 2026
AIIB Bakal Buka Kantor di Indonesia, Siapkan Pembiayaan US$ 17 Miliar
26 Juni 2026
Memuat komentar...