PT Medela Potentia Tbk (MDLA) melalui entitas anak usahanya memasuki fase dekarbonisasi operasional.
PerbesarSedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14.950 triliun dengan frekuensi sebanyak 4.931.760 kali. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)
, Jakarta – PT Medela Potentia Tbk (MDLA) melalui entitas anak PT Anugrah Argon Medica (AAM) memasuki fase dekarbonisasi operasional dengan meluncurkan armada mobil listrik pertamanya. Langkah ini menandai penguatan pendekatan distribusi dari sekadar efisiensi logistik menuju sistem operasional yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan.
Dekarbonisasi ini menjadi bagian dari respons strategis perusahaan terhadap perubahan lanskap industri distribusi yang semakin menuntut efisiensi operasional, menghadapi tekanan biaya energi, serta mendorong integrasi prinsip keberlanjutan dalam model bisnis.
Direktur Utama PT Medela Potentia Tbk, Juliwaty, menegaskan langkah ini merupakan bagian dari transformasi jangka panjang perusahaan dalam membangun sistem distribusi yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
“Penggunaan kendaraan listrik tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat kesiapan kami dalam menghadirkan layanan distribusi yang cepat, tepat, dan aman di tengah dinamika kebutuhan pasar. Ini merupakan bagian dari upaya kami mengintegrasikan inovasi secara menyeluruh dalam operasional,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Transformasi ini dibangun secara bertahap dan terintegrasi. Hingga 2025, AAM telah mengoperasikan 106 unit motor listrik di 15 cabang yang tersebar di 13 kota. Pengembangan ke kendaraan roda empat menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat sistem distribusi berbasis efisiensi energi sekaligus memperluas dampak operasional rendah emisi.
Pada 2025, PT Medela Potentia Tbk (MDLA) dan entitas anak tercatat telah menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 20 persen dari baseline, sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Ke depan, PT AAM akan terus memperluas implementasi dekarbonisasi operasional sebagai bagian dari penguatan sistem distribusi yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus mempertegas perannya dalam mendorong praktik distribusi yang lebih bertanggung jawab di industri layanan kesehatan.
MDLA Bagikan Dividen Rp 176 Miliar dan Angkat Direktur Utama Baru
PerbesarLayar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (/Angga Yuniar)
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan PT Medela Potentia Tbk (MDLA) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 176.561.595.000 atau setara dengan Rp 12,6 per saham.
Pembagian dividen ini mencerminkan komitmen Perseroan untuk terus memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham secara konsisten sejak Perseroan menjadi perusahaan terbuka.
Pada tahun sebelumnya, Perseroan membagikan dividen sebesar 40 persen dari laba bersih, sementara pada tahun buku 2025 Perseroan meningkatkan rasio pembagian dividen menjadi 45 persen dari laba bersih.
Jadwal Pembagian Dividen Tunai
- Cum Dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi: 22 Mei 2026
- Cum Dividen di Pasar Tunai: 26 Mei 2026
- Ex Dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi: 25 Mei 2026
- Ex Dividen di Pasar Tunai: 29 Mei 2026
- Recording Date: 26 Mei 2026
- Pembayaran Dividen Tunai: 17 Juni 2026
Kinerja Keuangan
Pada 2026, pendapatan MDLA tumbuh positif 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga mendorong laba periode berjalan naik 7,4 persen menjadi Rp 119,32 miliar.
Pertumbuhan pendapatan dan peningkatan laba ini didorong oleh kinerja penjualan produk farmasi dan efisiensi operasional di seluruh jaringan distribusi.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, MDLA berhasil mengantongi penjualan neto Rp 4,03 triliun hingga 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp 3,9 triliun yang dicatatkan pada kuartal I 2025.
Penjualan produk farmasi menjadi kontributor utama dengan Rp 3,26 triliun, lebih tinggi dari Rp 2,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu penjualan alat kesehatan mengkontribusikan Rp 394,5 miliar, dan produk kesehatan Rp 380,2 miliar.
