BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memastikan penggunaan bioavtur SAF (Sustainable Aviation Fuel) pada penerbangan komersial tidak mengharuskan maskapai mengganti mesin pesawat. Uji coba pada Airbus A320 dinyatakan berhasil, menunjukkan bahwa campuran bahan bakar ini dapat dipakai tanpa risiko teknis berikutnya. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan penerapan SAF sebesar 1% mulai 2027, dengan fokus pada penerbangan internasional dari Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, menjelaskan bahwa seluruh pengujian teknis telah dilakukan sebelum keputusan pemerintah mengeluarkan kebijakan. Hasil uji coba di test cell Garuda Maintenance Facility menunjukkan mesin pesawat tetap bekerja normal meski menggunakan campuran bioavtur, sehingga tidak diperlukan penggantian mesin. “Tidak ada kendala teknis pada penerbangan komersial Airbus 320 Pelita Air,” kata Sokhib, menekankan bahwa keputusan ini didasarkan pada evaluasi yang menyeluruh.
Pemerintah memilih pendekatan bertahap untuk mencegah risiko terhadap keselamatan operasional. Tahap awal akan melibatkan penggunaan 1% bioavtur blended dengan avtur yang ada, dengan target peningkatan hingga 50% pada 2060 sebagai bagian dari strategi mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan. Pemerintah menargetkan ketersediaan bahan bakar SAF meningkat melalui pengembangan kilang PT Pertamina di Cilacap, Balongan, dan fasilitas lainnya, yang diperkirakan akan memperkuat kapasitas produksi hingga 2027.
Uji Coba Airbus A320 Jadi Dasar Penerapan SAF
Pengujian terbang SAF pada pesawat komersial Airbus A320 milik Pelita Air, yang melayani rute Jakarta-Denpasar dan Denpasar-Jakarta selama Agustus hingga Desember 2025, menjadi dasar keputusan pemerintah. Uji coba tersebut berlangsung tanpa kendala teknis, mengonfirmasi bahwa SAF dapat digunakan secara aman pada penerbangan sipil. Sokhib menegaskan bahwa kebijakan bertahap ini memastikan evaluasi aspek keselamatan, operasional, dan pasokan bahan bakar sebelum diperluas ke bandara lainnya.
Target Campuran Bioavtur Naik hingga 50% pada 2060
Kementerian Perhubungan menargetkan penggunaan bioavtur terus meningkat secara bertahap, dengan rencana mencapai campuran sekitar 30-50% pada 2060. Pemerintah berharap penerapan SAF dapat mendukung transisi energi nasional tanpa mengorbankan standar keselamatan penerbangan. Proses ini akan melibatkan evaluasi performa mesin pesawat dan keandalan operasional sebelum meningkatkan kadar campuran.
Strategi Pemerintah Tekan Harga Bahan Bakar
Dalam rangka menekan harga bahan bakar fosil, pemerintah memperkuat peran PT Pertamina dalam mendukung transisi energi di sektor penerbangan. Dengan meningkatkan kapasitas produksi melalui kilang di Cilacap, Balongan, dan fasilitas lainnya, PT Pertamina diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar SAF secara bertahap. Kebijakan ini juga dirancang untuk mengurangi emisi karbon tanpa menimbulkan dampak pada ketersediaan mesin pesawat yang sudah terbukti stabil.
Kemenhub menegaskan bahwa penerapan SAF tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga memperkuat keberlanjutan ekonomi sektor penerbangan nasional. Proses ini diharapkan mendorong pengembangan teknologi dan keterlibatan industri dalam transisi energi yang lebih berkelanjutan. Dengan pendekatan bertahap, pemerintah ingin memastikan bahwa kebijakan ini dapat diterapkan secara merata di seluruh wilayah Indonesia sebelum 2060.
Artikel Terkait
Pemerintah Bebas Bea Masuk Suku Cadang Pesawat dan LPG
25 Juli 2026
Indonesia Fokus pada SAF Indonesia, Target Emisi Rendah 2027
23 Juli 2026
SAF Wajib 2027 Pertamina Siap Produksi & Rantai Pasok
22 Juli 2026
Ethno Carnival 2026 Banyuwangi Ramai, 90% Penerbangan
22 Juli 2026
Citilink Siapkan 5 Rute Baru Bandara Husein
22 Juli 2026
PLN Surplus Hidrogen 125 Ton, Siap Dioptimalkan
21 Juli 2026
Bahlil dan Pindad Luncurkan Tabung CNG 3 kg Baru
21 Juli 2026
Boeing Tunda Peluncuran Baru Boeing 737 MAX
21 Juli 2026
Memuat komentar...