Airlangga: RI Tak Mau Jadi Korban Persaingan Dagang Negara Besar

Indonesia berharap berbagai kerja sama internasional dapat berlangsung secara adil dan saling menguntungkan.

PerbesarMenko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Brussels Economic Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026). Indonesia berharap berbagai kerja sama internasional dapat berlangsung secara adil dan saling menguntungkan. (Foto:/Tira Santia)

, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan pemerintah Indonesia tidak ingin menjadi korban dari persaingan ekonomi dan perdagangan yang melibatkan negara-negara besar di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global.

Airlangga mengatakan, Indonesia berharap berbagai kerja sama internasional, termasuk dengan Uni Eropa, dapat berlangsung secara adil dan saling menguntungkan tanpa merugikan negara berkembang.

Ia menyebut setiap negara saat ini memiliki pendekatan masing-masing dalam menjaga keamanan ekonominya. Namun, kebijakan yang diambil negara-negara besar tidak seharusnya menciptakan tekanan baru bagi negara lain yang tengah berupaya meningkatkan daya saing industrinya.

“Jadi, pada dasarnya Indonesia tidak ingin menjadi korban ekonomi negara lain dalam hubungannya dengan Eropa,” kata Airlangga dalam acara Brussels Economic Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, dikutip MInggu (7/6/2026).

Menurutnya, Indonesia terus mencermati berbagai perkembangan kebijakan perdagangan global yang berpotensi memengaruhi akses pasar dan kinerja sektor manufaktur nasional.

 

Waspadai Dampak Kebijakan Negara-Negara Besar

PerbesarMenko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Brussels Economiic Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026). (Foto:/Tira Santia)

Dalam forum Brussels Economic Security Forum (BESF), Airlangga menyoroti munculnya berbagai kebijakan ekonomi dan perdagangan yang semakin dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan ekonomi nasional masing-masing negara.

Ia mengakui bahwa tren tersebut menjadi fenomena yang berkembang di berbagai kawasan, termasuk di negara-negara maju yang berusaha melindungi industri strategis mereka. Namun demikian, Indonesia berharap kebijakan tersebut tidak berujung pada munculnya hambatan perdagangan baru yang dapat mengganggu arus investasi maupun perdagangan global.

“Tentu saja selalu ada pendekatan keamanan ekonomi dari setiap negara. Dan juga prioritas komoditas. Jadi, saya pikir ini adalah sesuatu yang cukup mengkhawatirkan bagi Indonesia,” pungkasnya.



error: Content is protected !!