Iran Membuka Pemecahannya pada Selat Hormuz

BeritaLokal, Jakarta – Keterkaitan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tentang pengelolaan Selat Hormuz terus memperparah ketegangan regional. Dalam aksi yang diumumkan Sabtu, 20 Juni 2026, Iran mengklaim kembali menutup jalur pelayaran ini, sementara AS menyangkal klaim tersebut dan menyatakan selat tetap terbuka. Keterbelakangan ini memicu kejutan yang tidak terduga di tengah krisis diplomatik antara kedua negara, dengan tanda-tanda bahwa perang di Lebanon masih melanjutkan dampaknya.

Selain itu, pertukaran kesadaran antara Iran dan AS terkait konflik di Lebanon berlangsung. Serangan Israel di wilayah tersebut pada 18 April 2026 menewaskan minimal 16 orang, termasuk dua anak. Pemerintah Lebanon menyebut tujuh korban masih terjebak di bawah reruntuhan di Nabatiyeh dan desa-desa sekitarnya. Militer AS mengatakan situasi tetap dalam pengawasan untuk memastikan selat Hormuz tetap terbuka, sementara Iran menyatakan bahwa “langkah-langkah selanjutnya telah direncanakan” jika aksi agresi berlanjut.

Ketegangan ini meningkat setelah kedua pihak mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut. Namun, Iran kembali menegaskan bahwa perubahan itu adalah tanggapan terhadap operasi militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon serta “itikad buruk” AS dalam memenuhi komitmen gencatan senjata. Pernyataan ini dipertegas oleh televisi pemerintah Iran, yang mengklaim bahwa kebijakan mereka akan diberlakukan jika situasi tidak stabil.

Pertemuan diplomatik antara delegasi Iran dan AS sedang berlangsung di Swiss, dengan Wakil Presiden AS JD Vance melakukan perjalanan ke negara tersebut. Vance bertujuan untuk mempercepat pembahasan perjanjian sementara yang telah disepakati pada Rabu sebelumnya antara Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Perjanjian ini dirancang untuk menghentikan aksi militer Israel di Lebanon serta membuka selat Hormuz tanpa biaya tol dari Iran selama 60 hari.

Pernyataan Trump tentang pemberian biaya tol di Selat Hormuz menambah tanda-tanda ketegangan. Ia menyebutkan bahwa AS akan mengenakan biaya jika tidak ada kesepakatan akhir dalam 60 hari. “Tidak ada biaya tol selama Periode Gencatan Senjata, dan setelahnya hanya dikenakan oleh Amerika Serikat,” kata Trump dalam unggahannya di Truth Social. Ia menyebut biaya tersebut sebagai “jasa yang diberikan”.

Sementara itu, juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, mengatakan bahwa selat Hormuz tetap terbuka dan pasukan AS sedang memantau situasi. “Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” katanya. Kebijakan ini diumumkan setelah Iran melanjutkan upaya untuk menutup selat, yang dianggap sebagai reaksi terhadap aksi militer Israel dan kegagalan AS dalam menjalankan komitmen gencatan senjata.

Kedua belah pihak masih berada di tengah proses negosiasi, dengan tujuan membangun kesepakatan yang dapat mengurangi ketegangan. Meski demikian, keterlibatan Israel dan Lebanon tetap menjadi fokus utama dalam perdebatan diplomatik, sementara pertumbuhan kekuatan Iran di wilayah laut Asia Tenggara semakin menarik perhatian dunia.

error: Content is protected !!