BeritaLokal, Jakarta – BeritaLokal: Daya Saing Indonesia Turun 13 Peringkat di Asia Tenggara
Jakarta, Pernyataan International Institute for Management Development (IMD) mengungkapkan bahwa peringkat daya saing Indonesia menurun tajam dari posisi ke-40 pada 2025 menjadi ke-48 dalam 70 negara dunia. Penurunan ini mencerminkan kesulitan yang terus meningkat di sektor ekonomi, infrastruktur, dan perekonomian Indonesia.
Dalam penilaian tahunan IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2025, empat pilar utama diperhatikan: kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, serta infrastruktur. Dari penilaian kinerja ekonomi, Indonesia berada di posisi ke-24 dengan skor 59,9. Tiga tahun berturut-turut, negara ini mampu menempatkan diri pada posisi 24, yaitu 2024, 2025, dan 2026. Namun, penilaian ini mengalami penurunan signifikan di sektor infrastruktur dan bisnis.
Efisiensi pemerintah Indonesia berada di posisi ke-38 dengan skor 55,1, turun dari peringkat ke-34 pada 2025. Penilaian ini menunjukkan keterbatasan dalam pengelolaan anggaran dan proses perizinan. Di sisi lain, efisiensi bisnis Indonesia berada di posisi ke-50 dengan skor 40,9, mengalami penurunan dari posisi ke-26 pada 2025.
Infrastruktur Indonesia turun menjadi posisi ke-58 dengan skor 31,9, meski kinerja ekonomi dan perdagangan internasional masih memperlihatkan pertumbuhan. Dalam survei Asia Tenggara, Indonesia mengalami penurunan peringkat dibanding negara seperti Singapura (1), Malaysia (15), Thailand (26), Filipina (47), serta Vietnam (27).
Pemicu penurunan daya saing Indonesia terutama karena imbas perang tarif di kawasan Asia Tenggara, menurut Direktur World Competitive Center IMD, Arturo Bris. “Krisis mata uang dan ketimpangan struktural menjadi faktor utama,” kata Bris.
Selain itu, masalah ekonomi seperti infrastruktur tidak memadai, keterbatasan SDM, dan pengangguran tinggi juga disebut sebagai pembatas. Data menunjukkan 66,1% eksekutif Indonesia menganggap masalah ekonomi sebagai pendorong polarisasi.
Untuk meningkatkan daya saing, Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mendesak pengembangan tenaga kerja produktif dan integrasi strategi dari hulu ke hilir. Pemerintah juga perlu memperbaiki struktur biaya, kemudahan prosedur, cadangan mata uang asing, serta kualitas paspor.
Peningkatan daya saing Indonesia sebenarnya masih mungkin dengan fokus pada pendidikan (62 dari 69 negara), kesehatan dan lingkungan (63), serta institusi pemerintah yang efektif (51). “Efisiensi pemerintah bukan hanya cita-cita, tetapi harus diwujudkan untuk membangun ketahanan ekonomi,” kata Bris.
Dari penilaian infrastruktur, ketersediaan layanan teknologi dan internet yang rendah (28,9 Mbps) serta kurangnya paten menjadi isu penting. Dalam laporan lengkap, peringkat WCR 2025 dapat dilihat di tautan berikut.