BeritaLokal, Jakarta – Pengunduran Diri Bos Google dan Pemimpin Gemini: Memicu Perang AI Global
Jakarta, Tidak diragukan lagi, Noam Shazeer, bos pengembangan model AI Gemini di Google, resmi meninggalkan perusahaan raksasa teknologi ini untuk bergabung dengan OpenAI. Langkah ini menjadi momen penting dalam persaingan global AI, terutama karena Shazeer sebelumnya memimpin proyek Gemini yang dikenal sebagai model AI andalan Google.
Shazeer, seorang peneliti dan mantan CEO Character.ai, mengumumkan pindah dari Google pada hari Kamis (19/6/2026) melalui akun resmi di X (Twitter). Ia menekankan keterlibatan tim kuat di OpenAI, yang diperkirakan akan mempercepat pengembangan AI generatif. Meski tidak menyebutkan jabatan spesifiknya, kepindahan ini langsung menimbulkan perhatian industri teknologi karena Shazeer merupakan salah satu pilar kunci dalam proyek Gemini.
Pengakuan dari industri AI mengenai kekuatan Shazeer terlihat dari rekam jejaknya. Ia memulai karier di Google pada 2000 dan kembali bergabung pada 2024 setelah perusahaan menandatangani lisensi dengan Character.ai. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk memperkuat kemampuan internal Google dalam persaingan AI global, terutama menghadapi pesaing seperti OpenAI.
Selain itu, kepindahan Shazeer menjadi simbol pergeseran kekuatan di dunia AI. Dalam skema perebutan talenta AI, perusahaan besar mulai menarik para peneliti dan insinyur yang diperkirakan mampu mempercepat pengembangan model AI. Kepindahan Shazeer dinilai sebagai salah satu transisi terbesar dalam industri AI tahun ini.
Perang AI: ChatGPT dan Upaya Propaganda Asing
Sementara itu, OpenAI mengungkapkan investigasi terkait kelompok asing yang menggunakan ChatGPT untuk memicu kegembiraan publik AS. Dalam laporan resmi, mereka menyebut dua kelompok pengguna yang diduga berbasis di China. Kelompok pertama, “Data Center Bandwagon,” menargetkan masyarakat AS dengan kampanye propaganda mengenai konsumsi energi dan dampak negatif pusat data AI.
Mereka memanfaatkan ChatGPT untuk menyusun argumen berbahasa Inggris dan membuat ilustrasi visual, seperti komik strip, yang menyoroti risiko pemanfaatan pusat data di AS. Dalam narasi mereka, biaya listrik lokal mengalami lonjakan karena konsumsi energi yang besar. Para pelaku juga menyamar sebagai warga asing dan membagikan konten AI tersebut di media sosial.
Dalam investigasi, OpenAI menemukan dokumen strategi yang berisi panduan untuk memanipulasi opini publik, termasuk mengirim akun palsu ke platform seperti Facebook. Kebijakan ini dipandang sebagai upaya untuk memperkuat kritik terhadap kebijakan AS terkait energi dan teknologi.
Kritik Kebijakan dan Upaya Menyusup di Perdebatan Domestik
Selain menargetkan warga AS, kelompok kedua yang diidentifikasi OpenAI juga memperkuat aktivitas digital terhadap komunitas diaspora China. Mereka mengirim kalimat makian ke aktivis antipemerintah dan tokoh politik yang menyuarakan kegagalan kebijakan Washington. Dalam konten mereka, ChatGPT diarahkan untuk memproduksi kalimat bersifat menyerang tanpa menyebut wajah Presiden China Xi Jinping.
Pihak OpenAI mengakui kampanye ini gagal karena kurangnya keterlibatan pengguna asli. Namun, temuan ini menjadi isu sensitif karena mencerminkan upaya aktor asing untuk memasuki perdebatan domestik AS terkait teknologi AI.
Teka-Teki: Apa yang Mendorong Pemilihan ChatGPT?
Hingga saat ini, OpenAI tetap tidak mengetahui alasan pasti mengapa kelompok asing memilih menggunakan teknologi asal AS daripada chatbot lokal China seperti DeepSeek. “Kami tidak berada dalam posisi untuk menentukan apa yang mendorong pilihan tersebut,” kata mereka dalam laporan penutup.
Perang AI semakin sengit, dengan perusahaan raksasa memperkuat kekuatan teknologi dan mengalihkan talenta inti. Pergantian manajemen di Google dan investigasi terhadap kampanye asing menunjukkan bahwa dunia AI kini tidak hanya berfokus pada inovasi teknis, tetapi juga pada upaya memanipulasi opini publik global.
Kesimpulan
Pergantian kepemimpinan di Google dan investigasi terhadap kampanye asing menandai era baru dalam persaingan AI global. Kepindahan Shazeer ke OpenAI mencerminkan perubahan struktur industri, sementara upaya propaganda asing mengungkapkan risiko yang tidak terduga dari teknologi AI di dunia nyata. Dalam konteks ini, keterlibatan pemerintah dan pengawasan internasional menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga keadilan teknologi.