Waspada Pola Penipuan Baru di Era Pembayaran Digital

BeritaLokal, Jakarta – Pola Penipuan Digital di Era Pembayaran Digital Menjadi Tantangan Serius

Sistem pembayaran digital di Indonesia terus berkembang dengan cepat, namun berbagai bentuk penipuan kini semakin menarik perhatian para pelaku usaha. Dalam forum Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen, praktisi keamanan siber mengingatkan bahwa modus fraud saat ini tidak selalu dilakukan melalui akses langsung ke sistem teknologi. Pelaku justru memanfaatkan celah pada proses bisnis dan transaksi yang tampak normal, sehingga sulit dikenali sebagai aktivitas mencurigakan.

CEO Zentara Technologies, Regal Star, mengatakan bahwa sebagian besar kasus fraud modern terkait dengan perilaku pelanggan yang sah, seperti penggunaan gift card atau program loyalitas. “Kasus-kasus ini sering kali tidak terlihat sebagai serangan karena transaksinya tampak normal,” kata dia. Menurutnya, perusahaan perlu memahami pola aktivitas yang wajar agar dapat mendeteksi anomali lebih dini.

Indonesia menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan transaksi digital mencapai US$ 263 miliar pada 2024, menurut laporan e-Conomy SEA 2024. Di tengah perkembangan ini, gift card dan program loyalitas terus berkembang sebagai sarana promosi, penghargaan pelanggan, atau insentif karyawan. Namun, produk bernilai tersimpan juga berpotensi menjadi sasaran penyalahgunaan jika tidak diawasi secara menyeluruh.

Pola Fraud Berkembang
Kasus fraud seperti pengurasan saldo kartu (card draining) atau penyalahgunaan identitas sintetis untuk mendapatkan nilai tersimpan kini semakin kompleks. Para pelaku juga mulai memanfaatkan teknologi AI dalam rekayasa sosial, yang menyasar pegawai dengan kewenangan menerbitkan gift card.

Untuk mengantisipasi hal ini, perusahaan diimbau memperkuat sistem pemantauan transaksi, termasuk memantau pola penukaran yang tidak biasa, jeda antara aktivasi dan penggunaan gift card, serta kemampuan tim manusia untuk memahami siklus transaksi secara rinci. “Pencegahan fraud tidak hanya bergantung pada keamanan teknologi, tetapi juga pada literasi keamanan internal,” kata Darian Kuswanto, presiden Zentara Technologies.

Tips Pencegahan
Mengenai pencegahan, perusahaan perlu melakukan pelacakan aset digital sejak proses aktivasi hingga penukaran. Dengan demikian, risiko kerugian dapat diminimalkan. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci untuk menghadapi modus penipuan yang semakin memanfaatkan teknologi AI dan psikologi.

Kesimpulan
Dengan semakin berkembangnya ekosistem ekonomi digital nasional, penguatan tata kelola, pengawasan transaksi, serta literasi keamanan siber menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan konsumen dan mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.

error: Content is protected !!