BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia merasakan tumbukan kuat pada Selasa (16/6/2026), mencapai level terendah dalam tiga bulan setelah aksi jual beruntun di pasar global. Kegiatan ekonomi global yang terganggu oleh perang AS-Iran dan kerentanan pasokan minyak mengubah dinamika harga, dengan investor menantikan detail kesepakatan perdamaian antara negara-negara tersebut.
Pada sesi dini hari, harga minyak Brent berjangka turun 1,25% menjadi US$ 82,13, sementara West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan 1,41% hingga US$ 79,67. Kedua komoditas ini mencerminkan ketidakpastian terkait kerangka perdamaian AS-Iran yang sebelumnya dijatuhkan pada Senin. Perubahan harga berlangsung seiring dengan pergeseran volatilitas pasar akibat risiko politik dan kebijakan energi global.
Pemimpin G7 di Evian-les-Bains, Prancis, tengah mengacaukan diskusi mendalam tentang perjanjian perdamaian antara AS dan Iran. Kesepakatan yang ditandatangani sebelumnya memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, namun ketersediaan Selat Hormuz tetap terbatas hingga akhir pekan ini. Di sisi lain, perusahaan kapal tanker seperti Hapag-Lloyd dan Mitsui OSK Lines menunjukkan kepedulian terhadap transisinya, dengan Hapag-Lloyd menghentikan aksi militer di kawasan tersebut sebagai kabar baik bagi awak kapal.
Mitsui OSK Lines CEO Jotaro Tamura menyatakan bahwa proses perubahan hukum membutuhkan waktu berminggu-minggu, karena transisi seluruh sistem pelayaran di Selat Hormuz belum terpenuhi. “Kita tidak hanya melihat kesepakatan teori, tetapi harus mengubah situasi nyata,” kata Tamura.
Sementara itu, presiden AS Donald Trump menyebutkan penandatanganan kesepakatan resmi di Jenewa, Swiss, akan berlangsung Jumat depan. Kebijakan ini diperkirakan akan memperluas akses pelayaran ke Selat Hormuz tanpa syarat dari Iran. Namun, ekspektasi pasar masih terbatas karena risiko ketergantungan pada pasokan minyak dan perubahan geopolitik yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan tentang dampak jangka panjang untuk industri energi global, terutama di tengah ketegangan antar-negara dan kebijakan ekonomi. Investor dan pemerintah masih memantau dinamika pasar agar tidak terjadi penurunan harga minyak yang lebih signifikan.