Bank Sentral Jepang Dongkrak Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun

BeritaLokal, Jakarta – Bank of Japan (BoJ) kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1%, level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun, seiring dengan tekanan inflasi yang terus meningkat dan perubahan kondisi pasokan energi. Keputusan ini memperkuat langkah normalisasi kebijakan moneter yang mulai dijalankan pada 2024, meski berita itu juga menunjukkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi yang tidak terduga.

BoJ mengklaim bahwa inflasi konsumen masih berada di bawah target 2% karena kebijakan pemerintah yang mendorong pengurangan beban rumah tangga melalui subsidi energi dan strategi peningkatan produksi. Namun, kenaikan harga minyak mentah yang tajam mulai memperparah tekanan pada sektor ekonomi. Dalam pernyataannya, BoJ menyebut kenaikan harga minyak tersebut berdampak cepat dalam transaksi antarbisnis dan bisa menyebar ke konsumen.

Indeks Harga Produsen (PPI) Jepang naik 6,3% pada Mei, tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan biaya energi menjadi pendorong utama lonjakan ini. Pada Mei lalu, BoJ menaikkan suku bunga dari 0,5% ke 0,75%, dan kemudian kembali naik menjadi 1% pada 16 Juni. Kebijakan ini terjadi setelah beberapa bulan tekanan inflasi meningkat dan nilai tukar yen melemah.

Kepala Dewan BoJ, Toichiro Asada, menegaskan keputusan itu diambil dengan suara 7-1, meski satu anggota menolak kenaikan. Langkah ini dilakukan dalam konteks tekanan inflasi yang meningkat dan pelemahan nilai tukar yen. Kebijakan moneter juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap perubahan politik di Irak, yang bisa memperparah kenaikan harga energi.

Pasar merespons positif dengan indeks Nikkei 225 naik 0,46% setelah pengumuman, sementara yen menguat tipis ke level 160,22 per dolar AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun juga naik 3 basis poin menjadi 2,615%. Kenaikan suku bunga ini disambut positif oleh investor, meski beberapa analis menilai fokus BoJ lebih pada risiko inflasi daripada perlambatan ekonomi.

Selain itu, Bank of Japan juga memperkirakan akan mengurangi pembelian obligasi pemerintah sebesar 200 miliar yen setiap kuartal. Proses ini akan berlanjut hingga bulan April 2027 dengan pembelian obligasi sebesar 2 triliun yen per bulan. Kepala Strategi Pasar Asia Pasifik J.P. Morgan Asset Management, Tai Hui, menilai keputusan ini mencerminkan prioritas BoJ pada mitigasi inflasi.

Bursa saham Asia Pasifik mengalami pergerakan berbeda dengan Wall Street. Indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,61%, sementara indeks Kosdaq turun 1,47%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 mendatar, Topix susut 0,38%. Pergerakan ini dipengaruhi oleh kabar bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan mengakhiri perang di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menegaskan penandatanganan kesepakatan secara elektronik pada Minggu, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebutkan penghentian operasi militer akan diresmikan di Swiss.

Selain itu, perubahan ini juga mengarah pada kenaikan harga minyak yang turun sekitar 5% setelah jalur utama Selat Hormuz dibuka kembali Jumat pekan ini. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan pembukaan jangka panjang Selat Hormuz tanpa biaya. Dengan demikian, perubahan geopolitik dan kenaikan harga energi menjadi faktor utama dalam tekanan inflasi yang terus berlangsung.

error: Content is protected !!