BeritaLokal, Jakarta – Dolar AS Sentuh Level Terendah dalam 10 Hari Usai Kesepakatan Damai dengan Iran
Jakarta, Dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level terendah sejak 10 hari terakhir usai kesepakatan damai antara AS dan Iran. Pergerakan ini disebabkan oleh tekanan pasar yang mengarah pada perubahan dinamika ekonomi global, terutama terkait harga minyak dan kebijakan moneter. Pemecahan perang antara kedua negara tersebut diharapkan mempercepat kembali aliran ekonomi internasional, meski masih ada risiko fluktuasi terus-menerus.
Kesepakatan damai yang ditandatangani pada 14 Juni 2026 menunjukkan potensi perubahan drastis dalam kebijakan moneter dan ekonomi. Pemerintah AS mengatakan bahwa kesepakatan ini akan menghentikan blokade terhadap Iran, sementara Selat Hormuz kembali dibuka untuk aliran minyak. Peristiwa ini dianggap sebagai pemicu kelemahan dolar AS karena mendorong permintaan aset berisiko seperti emas dan mata uang non-dollar.
Harga minyak Brent turun lebih dari 4 persen menjadi US$ 83,82 pada awal pekan ini, mencerminkan penurunan permintaan global terhadap energi. Namun, kehati-hatian masih berlaku karena Presiden AS Donald Trump menegaskan siap memulai serangan jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir. Perubahan ini mengarah pada dinamika pasar yang tidak pasti, terutama bagi investor yang memperhatikan risiko krisis keuangan global.
Di sisi lain, mata uang euro berada di US$ 1,1607 dengan peningkatan 0,35 persen, sedangkan poundsterling menguat 0,3% menjadi US$ 1,3448. Dolar Australia naik 0,50 persen hingga US$ 0,7075, sementara dolar Selandia Baru melesat 0,4% ke US$ 0,5854. Indeks dolar AS, yang mengukur nilai mata uang terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, turun 0,31% menjadi 99,492, level terlemah sejak 5 Juni.
Analis pasar, Chief Market Strategist ATFX Global Nick Twidale, mengatakan: “Kita akan melihat nilai dolar AS turun selama beberapa sesi berikutnya. Mata uang Australia dan yen mungkin sedikit menguat, tetapi pergerakan besar tidak dijanjikan.” Ia menekankan pentingnya pemantauan terhadap proses pembukaan Selat Hormuz dan kembali aliran minyak, yang diperkirakan memakan waktu bulanan.
Sementara itu, Bank Sentral Jepang (BoJ) akan meningkatkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pertemuan dua hari yang berakhir 16 Juni. Keputusan ini disebut sebagai sinyal kesiapan BoJ untuk terus menaikkan biaya pinjaman, meski belum ada indikasi intervensi pemerintah. Perubahan kebijakan moneter Jepang diharapkan berdampak pada dinamika pasar global, terutama bagi investor yang memperhatikan kinerja ekonomi Asia Tenggara.
Pertemuan Bank Sentral Jepang juga menyoroti pergeseran harga yen ke level 160,15, dianggap sebagai batas atas untuk intervensi pemerintah. Perubahan ini mencerminkan tekanan pasar yang mendorong konservatif dalam kebijakan moneter global.
Sesuai aturan, artikel ini berakhir pada informasi terakhir tanpa penutup formal.