BeritaLokal, Jakarta – Harga Bitcoin melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini dinilai mampu meredakan ketidakpastian pasar yang terus membebani investor selama bulan-bulan terakhir, terutama karena kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi global.
Pada Senin (15/6/2026), harga Bitcoin mencapai US$ 65.844, naik 2,1 persen dalam 24 jam terakhir. Pemicu kenaikan ini datang setelah kabar kesepakatan AS-Iran muncul di awal perdagangan Asia, menyebabkan aset kripto melonjak dari level terendah harian sekitar US$ 63.722. Kenaikan harga Bitcoin mencapai 9 persen dari posisi terendah pekan lalu, saat aset itu turun di bawah US$ 60.000.
Selain Bitcoin, Ether naik 2,5 persen ke US$ 1.721, Solana menguat 3,6 persen mencapai US$ 71, dan XRP naik 3,2 persen menjadi US$ 1,19. Aset kripto utama lainnya juga menunjukkan pergerakan positif, seperti HYPE yang melonjak 7,5 persen hingga mendekati US$ 65.
Analisis pasar memperlihatkan penguatan harga di sejumlah aset kripto, tetapi masih ada beberapa faktor yang mungkin menahan momentumnya. Salah satunya adalah kekhawatiran investor terhadap tindakan Strategy yang mengungkapkan penjualan 32 Bitcoin untuk pembayaran dividen saham preferen. Langkah ini memicu reaksi jual, mengingat asumsi bahwa perusahaan milik Michael Saylor tidak akan menjual kepemilikan Bitcoin mereka.
Selain itu, arus keluar dana dari ETF kripto tetap menjadi perhatian pasar. Investor saat ini mengevaluasi apakah minat institusi akan kembali meningkat seiring membaiknya sentimen risiko global atau justru pemulihan Bitcoin akan kehilangan momentum setelah efek positif kesepakatan AS-Iran sepenuhnya tercermin di pasar.
Kesepakatan antara AS dan Iran juga menarik perhatian dunia, dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menjadi pihak pertama yang mengumumkan kesepakatan, disusul Presiden Donald Trump dan media pemerintah Iran. Trump menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat setelah penandatanganan kesepakatan.
Meskipun demikian, analis menilai masih ada sejumlah faktor yang dapat membatasi penguatan Bitcoin, termasuk ketidakpastian terhadap kebijakan pemerintah dan dinamika pasar keuangan global. Posisi harga Bitcoin saat ini tetap dipengaruhi oleh pergerakan pasar saham Asia, penurunan harga minyak Brent, serta sentimen investor yang masih mengantisipasi risiko.
Dengan demikian, meski ada pergerakan positif di sejumlah aset kripto, kondisi pasar masih dinamis dan terkendali oleh berbagai faktor ekonomi dan politik internasional.