BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat 0,02 persen menjadi Rp 17.941 per dolar AS pada perdagangan Kamis (11/6/2026), berkat dampak dari perbaikan kekhawatiran fiskal Indonesia, penyesuaian harga Pertamax, dan kenaikan BI Rate. Dikutip dari sumber terkait, penguatan rupiah terjadi karena memperkuat keyakinan pasar bahwa defisit fiskal masih dapat terjaga dalam batas yang seimbang.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penguatan rupiah disebabkan oleh pelemahan harga minyak global dan keputusan pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM Pertamax. “Faktor-faktor tersebut memberikan sinyal positif bagi kondisi fiskal nasional,” kata dia dalam wawancara dengan Antara. Kombinasi faktor ini tidak hanya memperkuat pergerakan rupiah, tetapi juga menunjukkan sentimen positif terhadap pasar obligasi domestik.
Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan suku bunga acuan sebelumnya dinilai mendorong daya tarik aset domestik. Kenaikan BI Rate memperkuat imbal hasil investasi dan berpotensi menarik modal masuk ke pasar keuangan, menjaga stabilitas nilai rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi eksternal, perhatian investor fokus pada perkembangan inflasi AS. Inflasi umum Negeri Paman Sam mencapai 4,2 persen secara tahunan (yoy) pada Mei 2026, naik dari 3,8 persen bulan sebelumnya dan sesuai ekspektasi pasar. Meski kenaikan inflasi tercatat percepatan selama tiga bulan berturut-turut, tekanan harga secara bulanan melambat menjadi 0,5 persen, lebih rendah dibandingkan 0,6 persen April 2026. Inflasi inti yang tidak mencakup energi dan pangan naik tipis menjadi 2,9 persen, meski melambat menjadi 0,2 persen dari 0,4 persen pada bulan sebelumnya.
Analisis Josua menunjukkan bahwa inflasi AS masih terkendali, sehingga investor mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Meski kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember 2026 sudah fully priced in, kondisi eksternal memperkuat sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti penurunan tekanan fiskal, dampak BI Rate, dan perkembangan inflasi AS, Josua memproyeksikan nilai tukar rupiah akan tetap stabil dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS dekat ini.
Penguatan rupiah terus berlanjut karena dinilai membantu menahan tekanan fiskal, memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, konsistensi perekonomian masih bergantung pada kebijakan moneter dan manajemen defisit fiskal yang tepat.