BeritaLokal, Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, terkait dengan perang AS-Israel yang berlangsung di Timur Tengah dan dampaknya terhadap inflasi serta kenaikan suku bunga. Sentimen geopolitik yang mengalami penurunan juga memicu kekhawatiran tentang potensi kenaikan suku bunga Fed.
Menurut laporan CNBC, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menurun 3,57% menjadi US$ 4.133,30, mencapai level terendah sejak 24 November 2025. Harga spot emas juga turun hampir 3% menjadi US$ 4.070,56. Perak mengalami koreksi setara 3%, sementara platinum dan paladium bergerak di sekitar titik harga tertentu.
Analisis senior FXTM, Lukman Otunuga, menuturkan bahwa emas tetap menjadi korban risiko inflasi meskipun ketegangan geopolitik melemah. “Konflik AS-Iran terbaru meredupkan harapan untuk penyelesaian perang,” katanya. Sementara Garda Revolusi Iran mengklaim telah melakukan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS di sekitar Selat Hormuz.
Harga emas turun lebih dari 20% sejak perang dimulai akhir Februari 2026, dengan lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi. Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi suku bunga lebih tinggi sering kali menekan nilai logam yang tidak menghasilkan imbal hasil. Pelaku pasar memperkirakan risiko kenaikan suku bunga mencapai 67% pada Desember, menurut CME FedWatch.
Tekanan di Wall Street juga terlihat dengan indeks Nasdaq Composite turun 0,9%, sementara S&P 500 melemah 0,4%. Haberkorn dari RJO Futures mengatakan trader sedikit gugup karena ketidakpastian pasar, dengan harga emas dan perak masih berada dalam tekanan hingga sinyal jelas diberikan oleh The Fed.
Berdasarkan laporan Commerzbank, jika data inflasi Mei menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar, harga emas bisa turun lebih lanjut. Namun, kondisi ini juga dapat membuka peluang pemulihan harga pada akhir tahun jika Fed tidak menaikkan suku bunga seperti diperkirakan.
Dampak perang AS-Iran dan lonjakan harga minyak memicu sentimen pasar yang mendorong kekhawatiran inflasi global. Harga minyak yang tinggi sering kali berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan menyebabkan suku bunga bertahan lebih lama.
Sementara itu, harapan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Israel mendorong harga minyak dunia melemah setelah kedua negara menghentikan serangan satu sama lain. Penurunan harga minyak dianggap bisa meredakan tekanan inflasi global.