[BeritaLokal], Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 7,57% menjadi 5.746,64 pada penutupan perdagangan saham Selasa, 9 Juni 2026, setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan peningkatan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah ini, yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, menjadi pendorong utama sentimen pasar saham domestik yang mengalami kenaikan signifikan, seiring dengan optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan moneter yang dianggap sebagai respons proaktif terhadap tekanan global.
Kenaikan BI Rate ini tidak hanya menunjukkan kebijakan penguatan keuangan domestik, tetapi juga merupakan upaya strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan akibat gejolak global, khususnya konflik di Timur Tengah. Selain BI Rate, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%, menunjukkan konsistensi dalam strategi pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar.
Perry Warjiyo, dari BI, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah “insidentil” yang diambil dalam konteks tekanan pasar dan kebutuhan untuk menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah. Selain itu, ditekankan bahwa kebijakan ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik, sehingga mendorong kembali aliran investasi portofolio asing ke Indonesia.
Dampak langsung dari kebijakan ini terlihat di bursa saham. IHSG mencatat kenaikan 7,57% pada penutupan Selasa, didukung oleh indeks LQ45 yang melonjak 8,01% menjadi 569,32. Volume perdagangan mencapai 2.707.858 kali transaksi dengan total nilai transaksi sebesar Rp 27,8 triliun. Posisi dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 18.000, menunjukkan bahwa kebijakan BI juga berhasil mendorong peningkatan nilai tukar rupiah.
Analisis pasar menunjukkan bahwa sentimen positif ini didorong oleh dua elemen utama: kebijakan BI yang dianggap efektif dalam menghadapi tekanan global, serta rencana buyback saham oleh sejumlah perusahaan besar, khususnya anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yang disebutkan dalam konferensi pers bersama DPR, Kementerian BUMN, Danantara, dan BPJS. Penundaan dan koordinasi ini menunjukkan upaya pemerintah dan regulator untuk menjaga stabilitas pasar saham di tengah tekanan sentimen global dan domestik.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi (Kiki), menyampaikan bahwa pasar saham Indonesia kini sedang berada dalam fase rebound, seiring dengan keperc