BeritaLokal, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memantau kondisi pasar modal Indonesia setelah indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 7,5% pada hari ini. Kegiatan analisis bersama OJK, Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berlangsung untuk memastikan stabilitas sistem keuangan.
Selain itu, OJK fokus pada perbankan sebagai faktor kunci dalam mengevaluasi risiko yang mungkin mengganggu pasar. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi perbankan, termasuk peningkatan suku bunga acuan BI dari 5,25% menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026. Ia menekankan pentingnya monitoring ekosistem keuangan nasional, terutama sektor yang memiliki exposure terhadap nilai tukar.
Dalam laporan harian, IHSG ditutup naik 7,57% menjadi 5.746,64, dengan indeks LQ45 meningkat 8,01% ke level 569,32. Sementara itu, Kurs rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran 18.000, yang memperlihatkan dampak dari peningkatan suku bunga BI. Di sisi lain, Bursa Saham Korea Selatan (KOSPI) mengalami henti perdagangan setelah indeks anjlok lebih dari 8,5% pada 8 Juni 2026.
Friderica menekankan pentingnya upaya buyback saham BUMN sebagai strategi untuk mendorong kembali kepercayaan investor. Ia menyebut bahwa wacana ini mulai dijalankan tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). “Kita melihat perlu adanya langkah-langkah bersama untuk memastikan pasar bisa kembali rebound,” kata dia.
Data dari RTI menunjukkan bahwa IHSG mengalami frekuensi perdagangan sebesar 2.707.858 kali dengan volume transaksi mencapai 44,8 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp 27,8 triliun. Sementara itu, sektor saham kesehatan naik 4,88%, sektor keuangan melompat 7,14%, dan sektor teknologi mendaki 3,15%.
Pihak OJK juga memantau kondisi lintas sektor, termasuk perbankan dan pasar modal. “Kita melakukan assessment secara sektor maupun lintas sektor untuk menghindari kejadian yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi,” kata Friderica. Ia menegaskan bahwa dampak geopolitik seperti situasi di Timur Tengah tetap menjadi perhatian.
Kondisi pasar saham masih stabil, meski ada pergerakan terkini yang memicu pertanyaan investor. OJK berharap kondisi ekonomi dapat pulih secara bertahap, sambil terus memantau risiko yang mungkin muncul.
Artikel Terkait
KSSK Terima Danantara, Memberi Insight Tanpa Hak Suara
28 Juli 2026Gubernur BI: Internal Unggul, Eksternal Masih Ada Peluang
28 Juli 2026
OJK Tutup Snapboost, Jual Cuang Lik‑Share Tak Sah
28 Juli 2026
Premi Kendaraan Listrik Bisa Naik 20 Persen
28 Juli 2026
Prabowo Panggil KSSK Dan Danantara, Tegaskan Koordinasi Kuat
27 Juli 2026
Bunga Simpanan Tetap di atas Tingkat Penjaminan LPS
27 Juli 2026
Tabungan Masih Tumbuh LPS Bongkar Mitos Makan Tabungan
27 Juli 2026
PPATK Blokir Rekening Judi Online Ribu, Rp 1,07 Triliun
27 Juli 2026
Memuat komentar...