[BeritaLokal], Jakarta — Emas kini bukan lagi yang dipakai di dada untuk ‘tampilan’ — tapi yang dipercaya di dada untuk ‘tahanan’.
Di tengah gemuruh inflasi dan tekanan ekonomi yang tak kunjung reda, masyarakat Indonesia mulai memegang emas bukan hanya sebagai hiasan, tapi sebagai teman keuangan yang bisa diandalkan. Dan di balik kepercayaan itu, ada perbankan syariah yang bergerak lebih cepat dari yang diharapkan — bahkan lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk membangun kepercayaan.
PT Bank Mega Syariah, dengan produk Flexi Gold, mencatat total pembiayaan emas mencapai lebih dari Rp 43 miliar hingga Mei 2026. Bayangkan: dari nol, dalam waktu kurang dari setahun, emas ini tumbuh 1.688 persen. Angka itu bukan angka yang dianggap “mungkin”, tapi kisah yang tumbuh dari tanah yang sebelumnya terasa “tidak terlalu aktif” — dan kini mengguncang pasar.
Benadicto A Ferary, divisi Digital Business & Product Management Bank Mega Syariah, mengatakan: “Emas bukan sekadar logam mulia. Ini adalah aset yang bisa dipegang, diinvestasikan, dan dijalankan dengan prinsip syariah.”
Dan masyarakat? Mereka mulai memandang emas sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang — bukan hanya untuk “dibawa ke rumah, dipasang di dada, dan dianggap selesai.”
Provinsi Jakarta sendiri menjadi kontributor terbesar, mencatat 36,6 persen dari total pembiayaan nasional. Tapi yang paling menarik? Jawa Tengah dan Jawa Timur — dua provinsi yang sebelumnya mungkin terlihat “tidak terlalu aktif” dalam dunia investasi — tiba-tiba menjadi pendorong paling agresif: pertumbuhan tahun ini mencapai lebih dari 21.283 persen.
Ini bukan angka yang dipakai untuk menghafal statistik, tapi bukti bahwa masyarakat sedang belajar memilih emas sebagai alat pertahanan keuangan — bahkan di tengah krisis ekonomi.
Dan jangan lupa, emas di Indonesia tidak hanya diukur dalam dolar. Harga emas di pasar lokal, seperti Antam, Galeri24, dan UBS, bergerak di Rp 2.630.000 per gram hingga Rp 2.830.000 per gram. Dan jika diperhatikan, harga ini tetap “berdampingan” dengan rupiah — bukan karena dolar, tapi karena kepercayaan masyarakat bahwa emas tetap menjadi “tahanan” saat mata uang lain bergerak.
Jadi, emas sekarang bukan hanya logam — tapi juga kepercayaan, kebijaksanaan, dan keputusan jangka panjang. Dan di Jakarta, di Jawa Tengah, dan di Jawa Timur, masyarakat mulai memahami bahwa emas bukan hanya untuk dipakai — tapi juga untuk dipertahankan.
