Indonesia-Filipina menjalankan skema barter dengan tidak memakai dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini diterapkan dengan penandatanganan 2 MoU.
PerbesarMenteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Senin, (8/6/2026). (Foto:/Maulandy R)
, Jakarta – Indonesia dan Filipina sepakat kerja sama perdagangan lewat skema barter, melalui penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) imbal dagang tripartit. Kedua negara sepakat melakukan kerja sama ekspor/impor tanpa menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) sebagai alat transaksi.
Penandatanganan tersebut dilakukan di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin (8/4/2026).
“Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar,” ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso usai menyaksikan acara penandatanganan.
MoU pertama adalah perjanjian Asian Pyrochem Technologies dari Filipina bersama PT Trade Barter Indonesia (TBI) dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI). Ketiga pihak menyepakati pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi.
Budi menjelaskan, serat abaka berasal dari pohon sejenis pisang dari Filipina, yang nantinya bakal diolah untuk menjadi produk tekstil di Indonesia.
“Serat abaka ini untuk bahan baku tekstil ya. Kita impor abaka kemudian diolah dari perusahaan anggota AGTI, asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia, diolah menjadi produk tekstil, dan nanti produk tekstilnya diekspor ke Filipina,” ungkapnya.
Produk Tekstil Jadi
Adapun MoU kedua adalah perjanjian Asian Pyrochem Technologies bersama PT Trade Barter Indonesia dan PT Krakatau Global Trading. Ketiga pihak menyepakati pertukaran produk baja dengan bijih besi (Iron Ore) asal Filipina untuk memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel.
“Kedua, kita impor iron ore untuk bahan baku abaka. Setelah itu setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian abakanya kita ekspor ke Filipina,” terang Mendag.
Dalam kedua kesepakatan tersebut, Indonesia diwakilkan oleh PT Trade Barter Indonesia (TBI) selaku agen yang memfasilitasi kontrak dagang skema barter ini.
Pencocokan Bisnis
PerbesarMenteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Senin, (8/6/2026). (Foto:/Maulandy R)
Tak berhenti di situ, Indonesia dan Filipina bakal melakukan pencocokan bisnis (business matching) agar skema barter ini bisa dilanjutkan untuk komoditas maupun produk-produk lainnya. Kelanjutannya bakal dibahas dalam Trade Expo Indonesia (TEI) pada 14-18 Oktober 2026 di ICE BSD.
“Setelah ini terus dilakukan business matching untuk komoditas yang lain. Jadi kita tidak hanya produk yang saya sampaikan tadi, tapi produk yang lain kita lakukan business matching,” sebut Mendag.
“Mudah-mudahan nanti bisa diteruskan di Trade Expo pada tanggal 14 Oktober sampai 18 Oktober di ICE BSD. Tadi kami sepakat mudah-mudahan nanti di BSD. Karena nanti semakin banyak komunitas yang bisa dilakukan dengan sistem bartering,” tuturnya.
Mengurangi Dominasi Dolar AS, Indonesia dan Filipina Jajaki Skema Barter
PerbesarMenteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjajaki upaya pengurangan transaksi lintas negara dengan dolar Amerika Serikat (AS). Salah satunya melalui barter dengan Filipina.
Dia menjelaskan, upaya tersebut sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, keputusannya akan ditentukan pada 12 Juni 2026 mendatang.
“Kita juga ada alternatif misalnya pakai barter. Ya nanti tanggal 12 ya, tanggal 12 kita ketemu dengan pengusaha Filipina,” ucap Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dia menjelaskan, rencana ini ada saat pertemuan tingkat ASEAN beberapa waktu lalu. Kemudian, pemerintah menjajaki peluang dengan pengusaha Filipina. Hal ini juga mengingat nilai tukar baik Indonesia dan Filipina sedang melemah.
“Jadi waktu kemarin waktu acara ASEAN kami ketemu salah satu pengusaha dari Filipina, dia impor barang kita selama ini dan ini untuk, karena di Filipina juga nilai tukarnya juga lagi kurang bagus,” jelas dia.
“Jadi bagaimana kalau kita pakai cara barter. Ini sudah kita carikan buyer-nya, setelah itu sudah ketemu, nanti tanggal 12 Juni kita akan tanda tangan kontrak dengan buyer ya,” imbuh Budi.
