OpenAI merilis fitur keamanan darurat bernama Lockdown Mode guna membentengi ChatGPT dari serangan siber jenis baru yang berbahaya.
PerbesarIlustrasi ChatGPT. (Foto: Solen Feyissa/Unsplash)
, Jakarta – OpenAI meluncurkan fitur keamanan darurat bernama Lockdown Mode guna membentengi ChatGPT dari serangan siber jenis baru yang kian mengkhawatirkan. Berita ini menuai perhatian para pembaca di kanal Tekno, Minggu (7/8/2026) kemarin.
Informasi lain yang juga populer datang dari Google yang menyewa superkomputer SpaceX Rp 16,6 triliun per bulan.
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno berikut ini.
1. OpenAI Rilis Fitur Keamanan Darurat untuk ChatGPT, Begini Cara Kerjanya
OpenAI baru saja meluncurkan fitur keamanan darurat bertajuk Lockdown Mode guna membentengi ChatGPT dari serangan siber jenis baru yang kian mengkhawatirkan.
Serangan ini memicu kewaspadaan tinggi karena peretas mampu menyusupkan instruksi tersembunyi (prompt injection) yang berbahaya ke dalam halaman situs web atau dokumen digital lainnya.
Ketika ketahuan atau tidak sengaja terbaca oleh ChatGPT saat menjelajah internet, instruksi siluman tersebut dapat memanipulasi kecerdasan buatan (AI) ini untuk melakukan tindakan di luar kendali pengguna, termasuk mencuri data berharga.
Untuk menekan risiko bocornya data sensitif, Lockdown Mode akan membatasi sejumlah kemampuan operasional ChatGPT secara drastis. Demikian sebagaimana dikutip dari Techcrunch, Minggu (7/6/2026).
Saat fitur ini diaktifkan, sistem akan otomatis mematikan fungsi penjelajahan web secara langsung. Dampaknya, ChatGPT hanya diizinkan untuk mengakses konten yang sudah tersimpan dalam memori jangka pendek alias cache.
Tak hanya itu, fitur penarikan dan penampilan gambar langsung dari internet, fitur riset mendalam (deep research), hingga mode agen pintar bakal langsung dinonaktifkan. Kendati demikian, pengguna dipastikan masih tetap bisa memproduksi gambar baru secara mandiri di dalam platform.
Baca selengkapnya di sini
2. Google Sewa Superkomputer SpaceX Rp 16,6 Triliun per Bulan, Buat Apa?
PerbesarLogo Google di kantornya yang berlokasi di Roppongi Hills Mori Tower, Tokyo, Jepang. (/ Yuslianson)
Menjelang penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa Nasdaq, SpaceX menuai perhatian industri teknologi dunia.
Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk ini baru saja mengamankan kesepakatan komputasi bernilai tinggi dengan raksasa mesin pencari, Google. Dalam dokumen regulasi yang dirilis Jumat lalu, Google sepakat membayar SpaceX sebesar USD 920 juta atau sekitar Rp 16,6 triliun per bulan.
Kontrak fantastis ini dijadwalkan berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. Melalui kerja sama tersebut, Google akan mendapatkan akses superkomputer berupa 110.000 unit GPU NVIDIA, CPU, memori, serta komponen pendukung mutakhir lainnya milik SpaceX.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) milik Google yang tengah menghadapi lonjakan permintaan global. Kesepakatan dengan Google ini menyerupai langkah SpaceX pada akhir Mei 2025 dengan Anthropic, perusahaan rintisan AI saingan berat OpenAI.
Dalam kerja sama tersebut, Anthropic sepakat menggelontorkan USD 1,25 miliar (sekitar Rp 22,6 triliun) per bulan hingga tahun 2029 demi menyewa seluruh kapasitas komputasi di pusat data Colossus 1 dekat Memphis, Tennessee. Pusat data ini awalnya dibangun oleh xAI yang kini melebur ke dalam SpaceX untuk pengembangan AI internal mereka.
Baca selengkapnya di sini
3. Disorot FBI, Kelompok Ransomware Ini Nekat Kirim Teknisi IT Palsu ke Kantor Korban
PerbesarRansomware Bisa Serang Data Kesehatan, Bagaimana Cara Mencegahnya? Foto:/Ade Nasihudin.
Lanskap kejahatan siber memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Sebuah kelompok ransomware dilaporkan mulai menggunakan taktik nekat dengan mengirimkan pekerja IT palsu secara langsung ke kantor target mereka.
Mengutip Techcrunch, Minggu (7/6/2026), modus operandi ini bertujuan untuk mencuri data sensitif langsung dari komputer korban menggunakan perangkat USB atau membuka akses kendali jarak jauh.
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh tim keamanan siber Google, Mandiant, dan Google Threat Intelligence Group, aksi ini didalangi oleh kelompok penjahat siber bernama Silent Ransom Group.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, geng tersebut dilaporkan telah menyasar puluhan korban, dengan fokus utama pada firma-firma hukum.
“Mandiant telah menyelidiki berbagai kasus di mana penyerang menempatkan orang dalam, menyuap karyawan, atau memasuki gedung secara fisik untuk melancarkan serangan siber,” ungkap Charles Carmakal, Chief Technology Officer Mandiant.
Ia menambahkan bahwa taktik infiltrasi fisik seperti ini sebenarnya sudah mulai terlihat dalam sejumlah kasus selama beberapa tahun terakhir.
