IHSG Kembali Anjlok, Analis Ungkap Penyebabnya

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Senin, (8/6/2026). Berikut penyebab tekanan IHSG.

PerbesarSelasa (9/9/2025) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk 1,47% ke level 7.653,65. Pergerakan IHSG hari ini masih melanjutkan sentimen negatif pada sore kemarin, Senin (8/9/2025) yang ditutup turun 1,28%. (AP Photo/Tatan Syuflana)

, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan koreksi pada awal sesi perdagangan saham Senin, (8/6/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah bursa saham Asia yang tertekan dan seluruh sektor saham memerah.

Mengutip data RTI, IHSG dibuka turun 1,94% menjadi 5.486,31 saat dipantau pada pukul 08.58 WIB. Saat dipantau pukul 09.00 WIB, IHSG kembali tertekan turun 2,19%. Kemudian kembali melemah 2,71% menjadi 5.493.

Pada pukul 09.03 WIB, IHSG turun 3,03% menjadi 5.421. Namun, tekanan IHSG berkurang. Berdasarkan pantauan pada pukul 09.44 WIB, IHSG turun 1,78% menjadi 5.495.

Merespons hal tersebut, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menegaskan secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026. “Di mana kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi 3,08% yoy, Rupiah yang telah menembus Rp 18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp 60,8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik,” kata Hari kepada, Senin, 8 Juni 2026.

Dia menuturkan, momentum bearish saat ini masih dominan dengan struktur tren menurun yang belum menunjukkan sinyal reversal yang valid. Dalam kondisi seperti ini, strategi yang paling prudent bagi investor adalah defense first prioritaskan preservasi modal dengan mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang likuiditasnya tipis.

Selain itu, ia menyarankan investor menghindari averaging down secara agresif sebelum ada konfirmasi stabilisasi rupiah dan sinyal bottoming yang jelas dari price action.

“Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, namun tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI,” ujarnya.

 

Indeks Saham LQ45 Susut

PerbesarPengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (/Angga Yuniar)

Indeks saham LQ45 susut 3,15% menjadi 540,18. Seluruh indeks saham acuan terpukul. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 5.490,11 dan level terendah 5.424,80.

Sebanyak 436 saham melemah sehingga bebani IHSG. 78 saham menguat dan 152 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 123.419 kali dengan volume perdagangan saham 1,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 1,2 triliun.

Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.099. Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi melemah 3,71%, sektor saham basic turun 4,15%, sektor saham industri terpangkas 3,65%. Lalu sektor saham consumer nonsiklikan melemah 3,01%, sektor saham consumer siklikal terpangkas 3,31%, sektor saham kesehatan terperosok 2,15%.

Kemudian sektor saham keuangan terpangkas 1,91%, sektor saham properti tergelincir 2,9%, sektor saham teknologi turun 1,61%, sektor saham infrastruktur melemah 4,58% dan sektor saham transportasi turun 4,69%.



error: Content is protected !!