Pengusaha Rusia Mengeluh Soal Suku Bunga Masih Tinggi

Pengusaha Rusia menilai suku bunga masih terlalu tinggi meski sudah di bawah 20% dan menjebak ekonomi.

PerbesarPemandangan kubah Istana Senat di Kremlin, Moskow, Rusia. (Dok. AP)

, Jakarta – Pengusaha Rusia mengeluhkan kebijakan moneter ketat bank sentral. Pengusaha menuturkan, kebijakan suku bunga tinggi telah menciptakan jebakan bagi perekonomian.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Minggu (7/6/2026), miliarder di bidang transportasi, pupuk, dan real estat, Roman Trotsenko menyamakan kebijakan moneter bank sentral dengan “guncangan Volcker,” merujuk pada kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve Amerika Serikat (AS) pada 1979-1982 di bawah Ketua Paul Volcker.

“Ini adalah eksperimen besar, dan tidak ada yang mengulanginya sejak itu, kecuali kita,” ujar dia kepada para pejabat tinggi, bankir, dan pengusaha dalam sebuah panel tentang pertumbuhan yang diselenggarakan oleh bank utama negara itu, Sberbank, sebagai bagian dari konferensi ekonomi terbesar Rusia di St. Petersburg.

Suku bunga acuan Rusia sekarang 14,5%, turun dari angka tertinggi 22%, tetapi masih dianggap terlalu tinggi bagi bisnis untuk berinvestasi.Di sisi lain, inflasi telah melambat menjadi 5,6% dari sekitar 10%.

Sebagian besar miliarder Rusia telah mendukung perang Presiden Rusia Vladimir Putin di Ukraina sejak 2022 meski ada sanksi barat yang merampas akses ke properti dan kapal pesiar mereka di Eropa dan Amerika Utara.

Namun, perang berlanjut hingga tahun kelima tanpa akhir yang terlihat, dengan keuntungan yang menurun, pajak yang meningkat, akses ke pasar Barat yang masih ditolak dan nasionalisasi aset swasta, konsensus tentang tujuan perang di kalangan pengusaha tampaknya mulai retak.

Sementara itu, saat pidato, di sesi pleno utama konferensi, Presiden Rusia Vladimir Putin memahami “kesedihan mendalam dan kekhawatiran” para pengusaha atas tingginya biaya pinjaman, tetapi mengatakan fondasi ekonomi Rusia tetap kokoh.

Adapun pertumbuhan ekonomi Rusia akan melambat menjadi 0,4% pada 2026 dari 2024 sebesar 4,9%. Hal ini karena suku bunga yang tinggi dan rubel yang overvalued, serta sanksi barat. Langkah-Langkah yang diusulkan pemerintah tidak akan memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi.

 

 

Permintaan Domestik Turun

PerbesarIlustrasi Rusia dan Bendera Rusia (AP PHOTO/Alexander Zemlianichenko)

Trotsenko mengatakan, buku-buku sejarah ekonomi akan menggambarkan kebijakan suku bunga masa perang sebagai “jebakan Zabotkin, yang secara keliru menjebak Rusia,” merujuk pada Wakil Ketua Pertama bank sentral Alexei Zabotkin, arsitek kebijakan saat ini.

Zabotkin, yang menghadiri diskusi tersebut, memuji pidato Trotsenko. Namun, ia kemudian mengatakan kepada wartawan, bank sentral sepenuhnya menyadari kesulitan bisnis Rusia.

Pemilik produsen pupuk Uralchem, Dmitry Mazepin menyamakan, tindakan bank sentral untuk mendinginkan ekonomi dengan upaya kekuatan Barat yang bermusuhan.

“Apa dampak tantangan eksternal? Selain fakta, seperti yang dikatakan presiden, bahwa mereka ingin memberikan kekalahan strategis, mereka hanya ingin memperlambat kita. Apa yang terjadi di dalam negeri? Apa yang dilakukan bank sentral ketika mengatakan ingin mendinginkan perekonomian?” kata Mazepin.

Orang terkaya Rusia, menurut Forbes, miliarder Alexei Mordashov, pemilik perusahaan baja Severstal, mengatakan permintaan domestik untuk baja telah turun 30% dalam tiga tahun terakhir. Hal itu mengakibatkan perusahaan memangkas 24% portofolio investasinya sementara arus kas menjadi negatif.

“Saya yakin hampir semua orang di ruangan ini serius mempertimbangkan kembali program investasi mereka. Jelas bahwa dengan ketidakstabilan dan volatilitas seperti itu, ini berarti kita akan menghadapi penurunan investasi yang lebih besar dan penurunan PDB yang lebih besar lagi.”

 

Menahan Diri

Para miliarder Rusia biasanya menahan diri untuk tidak berkomentar secara terbuka tentang perang di Ukraina. Banyak yang secara resmi telah menyerahkan kendali atas perusahaan mereka dan berjuang di pengadilan untuk pencabutan sanksi Barat.

CEO Sberbank,German Gref mengatakan, kepada wartawan setelah panel tersebut, tingkat pertumbuhan Rusia yang rendah dalam kondisi saat ini “sudah merupakan keajaiban”.

Adapun Gref yang menyusun program ekonomi pertama Putin pada awal 2000-an, yang menyebabkan tingkat pertumbuhan spektakuler selama beberapa tahun.



error: Content is protected !!