BeritaLokal, Jakarta – Kenaikan air laut yang diprediksi mencapai 56 cm pada 2050 menimpa 1.500 pulau kecil di Indonesia, memicu diskusi krusial tentang tanggung jawab korporasi dalam menghadapi krisis iklim. Perusahaan teknologi Telkomsel, yang menjadi salah satu pelaku utama infrastruktur komunikasi, menyentuh jantung masalah lingkungan dengan langkah-langkah transformasi radikal untuk mencegah dampaknya.
Dalam konferensi pers Telkomsel Sustainibility Report 2025, Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengkritik polusi udara di Jakarta sebagai peringatan keji berupa “bintang abu-abu” yang menyeret masyarakat ke dalam krisis ekologis. “Saat kita tiba di Singapura, langitnya biru-namun saat mendekati Jakarta, langit mulai abu-abu karena polusi,” ujarnya. Pihaknya menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya visual, melainkan sistemik yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.
Telkomsel mengambil tindakan taktis seperti penanaman pohon massal dan audit perangkat teknologi untuk mencegah pencemaran lingkungan. Produk Green Home mereka, solusi rumah tangga ramah lingkungan dengan panel surya, menjadi bagian dari strategi transisi hijau. Namun, ancaman iklim global lebih serius: kenaikan suhu 2 derajat Celsius bisa menyebabkan penenggelaman pulau-pulau kecil, terutama di wilayah Papua yang mencatat rekor suhu 38,4°C pada 27 Oktober 2024.
Komisaris Utama Telkomsel, Diaz F. M. Hendropriyono, memperingatkan bahwa kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius adalah “pertempuran hidup-mati” untuk peradaban modern. Data ilmiah dari WMO mengungkapkan proyeksi kenaikan permukaan air laut hingga 90 cm pada tahun 2100, yang akan menenggelamkan sekitar 115 pulau besar. “Bumi kita tidak bisa terlepas dari tanggung jawab kita,” kata Diaz, yang juga memperkuat peringatan bahwa tutupan es di Gunung Jaya Wijaya telah menyusut hingga hanya tersisa tipis.
Telkomsel menetapkan tiga pilar keberlanjutan: “Jaga Bumi”, “Jaga Cita”, dan “Jaga Data”. Dengan pendekatan ini, perusahaan berupaya merangkum pencapaian ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam laporan keberlanjutan pertama mereka pada 11 Juni 2026. Wong Soon Nam, Direktur Planning and Transformation Telkomsel, menegaskan bahwa perusahaan tidak bisa menyelamatkan Bumi sendiri, tapi menjadi “role model” yang menggerakkan masyarakat untuk investasi dalam ekosistem.
Dalam wawancara, Soon Nam membandingkan kaya alam Indonesia dengan tanggung jawab ekologis. “Semakin banyak kita memiliki sesuatu, semakin besar tanggung jawabnya,” kata dia. Kebakaran hutan di Papua dan penurunan tutupan es di Gunung Jaya menjadi bukti nyata bahwa waktu kritis telah berlalu. Telkomsel memperkuat komitmen untuk menjaga keindahan alam Indonesia sebagai bagian dari perubahan jangka panjang.
Dengan strategi transisi hijau dan kolaborasi lintas sektor, Telkomsel berharap mampu menjadi pilar penting dalam menghadapi krisis iklim. Namun, tantangan masih terus bertambah: dampak ekstrem seperti suhu ekstrem 38°C di Papua dan penurunan tutupan es memperkuat kebutuhan untuk tindakan lebih cepat dan signifikan.