Menko Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah strategi menghadapi ketidakpastian geopolitik dalam acara BESF di Belgia.
PerbesarMenko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026). (Foto:/Tira Santia)
, Jakarta – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan Pemerintah Indonesia menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga keamanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Dari perspektif Indonesia, keamanan ekonomi akan terjamin dengan swasembada pangan, ketahanan pangan serta energi,” kata Menko Airlangga dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026).
Ia mengatakan kemampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri menjadi faktor penting untuk menghadapi berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan di berbagai belahan dunia.
Dia menuturkan, Indonesia telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk memperkuat swasembada pangan melalui ketersediaan input produksi, termasuk pupuk dan energi, guna memastikan sektor pertanian tetap berjalan stabil meski dunia menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik.
“Jadi, Indonesia telah membuat strategi untuk menyediakan, misalnya, input untuk ketahanan pangan, pupuk, sehingga kita swasembada pupuk berdasarkan energi domestik seperti gas,” ujarnya.
Dalam forum Brussels Economic Security Forum (BESF), Airlangga mengatakan, dengan kapasitas produksi yang dimiliki saat ini, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mengekspor pupuk ke sejumlah negara tetangga.
Ia menyebut, Indonesia telah memasok pupuk ke Australia, Filipina, dan beberapa negara ASEAN lainnya sebagai bagian dari kontribusi menjaga stabilitas pasokan kawasan.
“Jadi, kita tidak mengalami gangguan dalam pasokan pupuk dan kita mampu mendukung negara tetangga dalam mengekspor pupuk kita ke Australia, Filipina, dan negara-negara ASEAN lainnya,” ungkapnya.
Ketahanan Sektor Energi
PerbesarMenko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6/2026). (Foto:/Tira Santia)
Kemudian, di bidang energi, Airlangga mengatakan, Pemerintah Indonesia juga mengandalkan sumber daya karbon seperti batu bara, gas, panas bumi, dan tenaga air untuk menjaga biaya listrik tetap terjangkau.
Airlangga juga menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah relatif rendah, yakni sekitar 20 persen dari kebutuhan minyak mentah nasional.
Dia menuturkan, pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan memperluas sumber energi dari negara lain, termasuk melalui kesepakatan tarif timbal balik dengan Amerika Serikat serta akses pasokan yang dimiliki Pertamina di Venezuela.
“Indonesia hanya bergantung pada Timur Tengah sekitar 20% energinya untuk minyak mentah, tetapi kita sudah mengkompensasinya dengan kesepakatan tarif timbal balik dengan AS di mana kita dapat memperoleh kelebihan energi tambahan dari AS dan Venezuela. Jadi, saya pikir jika perang tidak terlalu lama, hanya empat, lima, enam atau bahkan menjelang akhir tahun, untuk tahun ini Indonesia relatif aman,” pungkasnya.
