Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 32,46% sepanjang 2026 dan investor asing sudah melepas saham Rp 57,63 triliun.
PerbesarPengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta. (/Angga Yuniar)
, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum bangkit hingga penutupan perdagangan saham Kamis, 3 Juni 2026. Seiring koreksi IHSG itu mendorong kinerja indeks saham acuan turun di atas 30% sepanjang 2026.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat, (5/6/2026), IHSG turun 1,7% menjadi 5.839,78 pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. IHSG menyentuh level tertinggi 5.924,50 dan level terendah 5.644,23. Level IHSG terendah itu sejak Mei 2021.
Pada perdagangan saham Kamis pekan ini juga cukup ramai. Tercatat total volume perdagangan saham 36,24 miliar saham dengan nilai transaksi harian Rp 25,51 triliun. Total frekuensi perdagangan 2,24 juta kali transaksi.
Di sisi lain, investor asing menjual saham Rp 1,27 triliun pada Kamis pekan ini. Hal itu menambah aksi jual saham oleh investor asing sepanjang 2026 menjadi Rp 57,63 triliun.
Kapitalisasi pasar BEI pun turun menjadi Rp 10.263 triliun pada penutupan perdagangan Kamis pekan ini. Kapitalisasi pasar telah merosot Rp 5.902 triliun dari kapitalisasi pasar 5 Januari 2026 yang mencapai Rp 16.165 triliun.
Seiring tekanan yang terjadi mendorong IHSG turun 32,46% year to date (Ytd). Posisi IHSG berada di posisi ke-6 di ASEAN, sedangkan di Asia Pasifik di peringkat ke-13 dan dunia peringkat ke-35.
Di ASEAN, bursa saham Thailand memimpin posisi di peringkat. Indeks saham acuan Thailand SET Index menguat 26,60% ke 1.594,79. Kemudian di posisi kedua dipegang bursa saham Singapura yang menguat 9,07% ke 5.097. Posisi ketiga dipegang bursa saham Vietnam yang naik 1,93% ke 1.819,01.
Koreksi IHSG didorong kombinasi sejumlah sentimen negatif yang datang bersamaan. Hal itu disampaikan pengamat pasar modal Elandry Pratama dikutip dari Antara, Jumat pekan ini.
Ia menilai, pelemahan rupiah hingga menyentuh level 18.000 per dolar AS terjadi bersamaan dengan berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham dan surat berharga negara (SBN).
“Di saat yang sama, pasar juga mendapat sentimen negatif dari outlook Moody’s terhadap Danantara,” ujar dia dikutip dari Antara.
Sentimen IHSG Lainnya
Dari eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat, sementara kebijakan tarif terbaru Presiden AS Donald Trump berpotensi menekan sejumlah sektor ekspor Indonesia.
“Kombinasi berbagai sentimen negatif tersebut kemudian diperparah oleh faktor teknikal berupa panic selling dan efek margin call, sehingga aksi jual semakin besar dan membuat penurunan IHSG menjadi lebih dalam pada perdagangan hari ini,” kata dia.
Dalam riset Eastspring Investments pada Kamis, 4 Januari 2026 menyebutkan, pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak melewati level 18.000 turut menjadi perhatian investor. Kondisi itu ditambah dengan masih terbatasnya visibilitas pasar terhadap arah kebijakan dan langkah yang akan ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tampaknya memengaruhi tingkat keyakinan investor dalam jangka pendek.
“Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada pengesahan revisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) oleh DPR pada hari ini (Kamis-red). Revisi tersebut salah satunya memperluas tujuan kebijakan Bank Indonesia agar turut mendukung pertumbuhan sektor riil, serta memberikan kewenangan kepada DPR untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja Bank Indonesia, OJK, dan LPS. Di mana hasil evaluasi dan rekomendasi DPR selanjutnya akan disampaikan kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti,”
“Perubahan kebijakan ini hadir di tengah perhatian pasar yang masih tertuju pada perkembangan kondisi pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati implementasi ketentuan tersebut, khususnya dalam menjaga efektivitas tata kelola koordinasi kebijakan dan independensi kelembagaan,” demikian seperti dikutip.
Strategi Investasi Saham
PerbesarSuasana di salah satu ruangan di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/1). Sebelumnya, Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (/Faizal Fanani)
Di tengah tekanan IHSG yang masih terjadi, Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji mengingatkan investor untuk fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid. Selain itu, fokus pada saham bervaluasi murah dan fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren. “Gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” ujar dia.
