BeritaLokal, Jakarta – PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) sedang memperhatikan berbagai skema untuk meningkatkan free float atau persentase saham beredar di pasar modal. Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham, menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAEF, Willy Meridian.
Meski perusahaan fokus pada peningkatan kinerja dan fundamental sebelum mengambil langkah korporatif, manajemen tetap memperkuat strategi untuk memenuhi ketentuan terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menuntut porsi saham publik minimal 15%. Willy menjelaskan bahwa proses ini masih dalam tahap review dan perlu disertai komunikasi dengan regulator.
Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa, menyebutkan konversi OWK menjadi saham adalah salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan. Jika seluruh obligasi wajib konversi dieksekusi, porsi kepemilikan publik berpotensi meningkat hingga 15% dalam dua tahun mendatang. “Kalau dikonversi seluruhnya, free float bisa mencapai sekitar 15%,” kata Djagad.
Namun perusahaan menegaskan bahwa penggunaan OWK bukan satu-satunya skenario yang diinvestigasi. KAEF masih mengkaji alternatif lain sambil menjalin komunikasi dengan regulator untuk memastikan pemenuhan kejelasan tentang batas waktu pemenuhan ketentuan free float.
Sebelumnya, perusahaan mengakui tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik global menjadi tantangan utama bagi kinerja pada 2026. Djagad Prakasa menegaskan bahwa konflik geopolitik memengaruhi harga energi, biaya logistik, serta harga bahan baku industri. “Faktor geopolitik mengganggu industri, terutama produk turunan petrokimia,” kata dia.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian karena berdampak pada biaya produksi dan operasional. Djagad berharap kebijakan pemerintah dapat meminimalkan tekanan tersebut. “Nilai tukar sekarang tinggi, kami harap kebijakan pemerintah bisa membantu mengurangi tekanan,” katanya.
Meski merencanakan perbaikan kinerja secara anggaran, KAEF tetap berupaya mempertahankan tren positif yang mulai terlihat sejak awal tahun. Dalam proyeksinya, perusahaan masih menargetkan rugi pada 2026, namun berusaha tetap mencatatkan laba hingga akhir tahun. “Kami konsisten untuk mempertahankan kondisi biru meski anggaran sedikit merah,” kata Djagad.
Pemulihan kinerja perusahaan sejauh ini masih sesuai rencana, terutama dari sisi operasional. Willy Meridian mengatakan EBITDA yang positif menjadi indikator bahwa perusahaan berada di jalur yang benar. Namun tekanan eksternal seperti fluktuasi harga minyak dan rupiah tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Perusahaan juga memperkuat program transformasi untuk meningkatkan efisiensi dan penguatan aspek komersial, terutama dalam menghadapi faktor eksternal seperti nilai tukar dolar AS yang sulit diprediksi. “Kami fokus pada efisiensi internal, tetapi juga memperkuat aspek komersial untuk menjaga keberlanjutan perbaikan kinerja,” kata Willy.
Dengan menggabungkan strategi internal dan eksternal, KAEF berupaya memastikan bahwa pemenuhan ketentuan free float tercapai sekaligus menjamin stabilitas operasional dalam situasi ketidakpastian global.
Artikel Terkait
Danantara Seketua KSSK, Peran Baru di Komite Stabilitas Keuangan
27 Juli 2026
ASML Tawarkan Bonus Karyawan 20.000 Euro
21 Juli 2026
Pos Indonesia Gagal Bayar Imbal Jasa Sukuk
16 Juli 2026
Demutualisasi Bursa Efek, Danantara dan Kemenkeu Siap
16 Juli 2026
Rating S&P Menyok IHSG, Pasar Berputar ke 2% Kenaikan
16 Juli 2026
Wilmar Tegaskan Tidak Ada Dugaan Transfer Pricing CPO
16 Juli 2026
Free Float Emiten Masih Rintangan
15 Juli 2026
IPO RANS: Bukti Industri Kreatif Indonesia
15 Juli 2026
Memuat komentar...