‎Catatan Bathin Perjalanan Spiritual Menuju Baitullah Jamaah Haji Asal Medan Dan Ungkapan Syukur Bisa Menjalankan Ibadah Haji

BeritaLokal, Medan – Dalam momen kekhusyukan menjalankan rangkaian ibadah haji, jamaah dari Kloter 8 asal Medan mengungkapkan rasa haru, syukur, dan takjub atas kebesaran Allah. Salah satu jamaah, Aidil Syahputra, yang sehat dan menemani sang ibunda tercinta menggantikan ayahnya yang telah wafat, mengatakan: “Alhamdulillah, saya sehat dan sangat bersyukur bisa menemani mamak. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya dalam menjalankan rukun Islam ke-5.”

Aidil Syahputra, pemilik Putra Optikal di Banda Aceh, mengaku perjalanan spiritualnya menuju Ka’bah merupakan kesempatan penting untuk mendekatkan diri pada Allah. Ia berharap bisa kembali menjalani ibadah haji tahun depan. “Kita fokus melakukan ibadah wajib dan sunnah, perbanyak zikir, sholawat, dan doa,” katanya. Pemiliknya juga menyebutkan bahwa pengalaman ini menambah keimanan dan rasa takjub terhadap sejarah Islam di tanah Suci.

Selain Aidil Syahputra, jamaah Kloter 17 asal Medan, Muhammad Said Harahap, juga mengungkapkan rasa syukur. Ia bersama istri tercinta menjalani ibadah haji tahun ini. “Saya hanya staf pengajar, tapi Allah ajari saya melalui niat yang mantap bahwa Niat + Istiqomah = Jalan,” kata Said. Ia berharap bisa memperbanyak ibadah seperti iqtikaf malam, sholat qiyamulail, dan tawaf sunnah sebagai rasa syukur terhadap Allah.

Perjalanan spiritual jamaah haji Kloter 8 dan 17 mencakup ritual penting seperti Armuzna, Tawaf, dan Sa’i. Said mengatakan bahwa Armuzna adalah pengalaman penuh taubat, di mana ia memohon ampunan kepada Allah dengan perjalanan dari Arafah hingga Mina. “Di Arafah, aku merasakan kepadatan dosa, tapi langit Arafah terlalu luas untuk menyembunyikan dosa,” katanya. Di Muzdalifah, ia menekankan pentingnya membuang sifat sombong dan kikir. “Di Mina, aku mengalami ujian dengan berjalan pulang-pergi sejak subuh 10 Dzulhijjah hingga Maghrib,” katanya.

Pemahaman tentang perjalanan spiritual ini menurut Said menjadi catatan batin yang tak terlupakan. “Setelah Mina, Tawaf Ifadah 7 putaran mengajarkan saya bahwa dosa-dosa itu luruh satu per satu,” kata ia. Sa’i dari Shafa ke Marwah juga dijelaskan sebagai momen untuk memohon maaf, dengan doa: “Rabbigfir warham, innaka antal a’azzul akram.”

Said menekankan bahwa haji mengajarkan pentingnya berani mengaku salah dan meminta maaf kepada Pemilik Ka’bah. “Dosa tak terhitung, tapi rahmat Allah lebih luas dari Arafah,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa pengalaman ini dapat menjadi hikmah bagi masyarakat luas.

Perjalanan spiritual jamaah haji di tanah Suci kembali ditunggu pada Selasa 10 Juni 2026. Dalam rangkaian ibadah, para jamaah menggabungkan kegiatan wajib dan sunnah dengan perbanyak zikir, sholat, serta doa.

Artikel Terkait

0