MEDAN(beritalokal.my.id) – Ditengah momentum kekhusyukan aktivitas jamaah haji dalam menjalankan rangkaian akhir spiritual ibadah haji, tertanam didalam hati sanubari rasa haru dan ungkapan syukur serta takjub atas kebesaran Allah.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang jamaah haji Kloter 8 asal Medan, Aidil Syahputra, yang menemani sang ibunda tercinta menggantikan ayahnya yang telah tiada untuk menjalankan rangkaian ibadah haji pada tahun ini.
”Alhamdulillah…saya sehat. Saya terharu dan sangat bersyukur bisa menemani mamak dan menggantikan ayah yang telah wafat untuk menjalankan ibadah haji tahun ini,” ungkap Aidil Syahputra kepada awak media Nagapos.com via WhatsApp pada Selasa malam, (2/6/2026).
Bagi Aidil Syahputra menunaikan ibadah haji pada tahun ini adalah yang pertama kali dan berharap bisa kembali menjalankan rukun Islam ke 5 ini pada tahun yang akan datang.
”yah… Bagi mamak ini ibadah haji yang kedua kalinya, hal ini merupakan kerinduan dihati beliau melaksanakan ibadah haji dengan ayah, tapi karena ayah telah wafat, jadi ini untuk pertama kali saya menemani mamak menggantikan ayah untuk menjalankan ibadah haji,” tambah Aidil Syahputra.
Aidil Syahputra pemilik Putra Optikal di Banda Aceh, mengaku banyak hal yang berbekas dan menambah rasa keimanan dan kecintaannya kepada Allah dan nabi selama perjalanan spiritualnya menuju baitullah.
”Saat ini kami lagi di kampung taip. kita tinggal menanti pelaksanaan tawaf wada’ ya. Jadi karena ini kesempatan terbaik mendekatkan diri pada Allah menambah keimanan dan kecintaan pada Allah dan nabi, kita fokus melakukan ibadah wajib dan sunnah, perbanyak zikir, sholawat, dan do’a-do’a. Dan banyak hal yang kita rasakan yang menambah takjub kita dan pengetahuan kita tentang sejarah Islam ditanah suci ini. Kita terasa dekat sama Allah dan juga nabi,” kata Aidil Syahputra.
Informasi yang diterima awak media, jamaah haji Kloter 8 akan kembali ketanah air pada Selasa 10 Juni 2026 mendatang.
Rasa haru dan syukur juga diungkapkan salah satu jamaah haji Kloter 17 asal Medan, Muhammad Said Harahap. Ia bersama istri tercinta dapat berbarengan melaksanakan ibadah haji tahun ini.
”Alhamdulillah kami sehat bang, Alhamdulillah ya, saya sangat terharu dan bersyukur bisa berangkat haji pada tahun ini bersama istri tercinta,” ungkap Said kepada awak media Nagapos.com via WhatsApp pada Selasa malam, (2/6/2026).
Said menjelaskan lagi, keberangkatannya ke Tanah Suci bersama istri bukan karena memiliki kelebihan secara materi, tetapi ditengah kesederhanaan sebagai staf pengajar, ia meyakini ada kekuatan besar dalam niat yang dijaga dengan istiqamah.
“Saya hanya staf pengajar. Tapi Allah ajari saya melalui satu keyakinan yang mantap, bahwa Niat + Istiqomah = Jalan. Jadi kalau sudah niat, langit pun akan ikut mendoakan,” ungkap Said.
Sebagai ungkapan rasa syukurnya, Said mengaku memanfaatkan momentum ibadah spiritual ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak melakukan ibadah, i’tikaf malam, Sholat qiyamullail dan juga tawaf sunnah.
”Kami banyak melakukan ibadah iqtikaf malam sholat qiyamulail dan tawaf sunah sebagai rasa syukur kami untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” jelas Said.
Said mengatakan lagi, bahwa Jamaah haji semuanya sudah di Mekkah karena sudah menyelesaikan rangkaian ibadah wajib haji dan selesainya hari tasyrik.
Dalam rangkaian perjalanan spiritualnya menuju baitullah, Said mengaku banyak menambah rasa takjub dan keimanannya yang berbekas di hati sanubarinya atas kebesaran Allah SWT.
Said pun menceritakan beberapa kesan pengalamannya yang dijadikannya sebagai catatan batin dari Tanah Suci yang tidak akan terlupakan.
Berawal dari panggilan yang mengguncang hatinya, ketika namanya beserta istri keluar didaftar berangkat haji. ia mengaku bukan sujud syukur yang pertama kali datang kepadanya tetapi justru guncangan hati sambil berkata ‘Ya Allah, pantaskah aku?’.
”Saya terpanggil menunaikan rukun Islam kelima. Setelah syahadat, shalat, puasa, zakat, kini haji. Tapi dada ini sesak oleh pertanyaan yang tak bisa dijawab hati manusia : ‘Diterima tidak ibadahku oleh-Mu, wahai Pencipta Alam Semesta?,” jelas Said.
”Bagaimana mungkin aku berani menghadap Ka’bah, meminta ampun, sementara dosa masih menempel di tubuh ini? Dosa kepada ibu bapak yang sering ku bentak diam-diam. Dosa mata yang tak terjaga dari melihat yang haram. Dosa telinga yang senang mendengar ghibah. Dosa lisan yang tajam. Dosa tangan, kaki, dan kemaluan yang kupakai tidak pada fungsinya. Aku malu. Sungguh, aku belum pantas bersujud meminta surga,” ungkap Said lagi mengungkapkan guncangan hatinya.
Said juga menceritakan pengalaman barunyaperjalan Armuzna. Ia memahami bahwa ‘Armuzna Sepenggal Jalan Pengemis Ampunan makhluk kepada sang khalik.
”Lalu dimulailah Armuzna. Perjalanan Arafah, Muzdalifah, Mina bukan sekadar pindah tenda. Ini perjalanan seorang pengemis yang memohon ampunan kepada sang khalik pencipta,” jelasnya.
Saat di Arafah, lanjut Said lagi mengungkapkan catatan batinnya. I memahami bahwa Arafah merupakan Padang Penyesalan bagi makhluk yang selama ini penuh dosa.
”Bus melaju 22 km dari Makkah ke Arafah. Tapi yang terasa jauh adalah jarak antara aku dan ampunan-Nya. Sehari penuh di Padang Arafah, dibawah terik yang membakar ubun-ubun, aku hanya bisa menangis. Tidak ada tempat sembunyi dari dosa. Langit Arafah terlalu luas, terlalu jujur. Dari Dhuhur sampai Maghrib saat wukuf, lisanku kering berdoa: ‘Ya Allah, kalau bukan hari ini Engkau ampuni aku, kapan lagi?’ Aku menunggu Fajar dengan hati berdebar. Wukuf adalah mihrab paling sunyi sekaligus paling ramai oleh isak tangis para pendosa,” terang Said.
Kemudian saat di Muzdalifah, lanjut Said lagi. Ia memahami bahwa Muzdalifah merupakan ‘Bermalam di Atas Kerikil’ dengan satu ikrar membuang kesombongan, kikir, dan malas didalam diri.
”Malamnya kami digiring 8 km ke Muzdalifah. Beratapkan langit, beralaskan tanah. Di sini aku mabit. Di sini aku memungut batu-batu kecil. Setiap kerikil yang masuk ke kantong adalah satu ikrar : ‘Dengan ini aku akan lempari sifat sombongku, malas shalatku, kikirku’. Dingin malam Muzdalifah menusuk, tapi lebih menusuk lagi dinginnya hati yang takut tidak diampuni,” ungkap Said melanjutkan.
Pemahaman perjalanan spiritual lainnya yang menjadi catatan batin Said berikutnya saat di Mina. Ia memahami bahwa di Mina merupakan perjalanan 3 Hari Menebus Diri.
”Subuh 10 Dzulhijjah, kami jalan 6km menuju Mina. Dan di Mina, ujian sebenarnya dimulai. Selama 3 hari aku menetap. Setiap hari aku berjalan pulang-pergi ke Jamarat sejauh 12 km di bawah matahari yang seperti sejengkal dari kepala. Saat tangan ini melempar Jumrah Aqabah, aku berbisik: ‘Ya Allah, ini dosa mataku.’ Lemparan kedua: ‘Ini dosa telingaku.’ Ketiga: ‘Ini lisanku’. Sampai pada kerikil ketujuh habis, aku masih merasa dosaku lebih banyak dari batu di Muzdalifah. Keringat, lecet, dan kaki melepuh jadi saksi: beginilah rasanya mengemis ampunan,” ungkap haru Said menunjukkan emoji menangis.
Said juga menceritakan catatan batinnya, ketika tiba waktunya yang menjadi penghujung di Baitullah yakni saat Tawaf dan Sa’i.
”Setelah Mina melumat ego, Allah panggil kami kembali ke Makkah. Inilah penghujung wajib. Dengan kaki yang sudah gemetar, aku Tawaf Ifadah 7 putaran. Setiap langkah mengelilingi Ka’bah, aku merasa dosa-dosa itu luruh satu per satu. Tidak ada Raml, tidak ada Idhtiba’. Yang ada hanya langkah seorang hamba yang pasrah: ‘Aku pulang, Ya Allah. Terima aku.’ jelas Said.
”Lalu Sa’i. Dari Shafa ke Marwah 3,15 km. Aku ingat Siti Hajar. Kalau ia berlari untuk air bagi Ismail, aku berlari untuk air mata taubat bagi diriku. Di lampu hijau aku lari kecil, sambil merintih: “Rabbigfir warham, innaka antal a’azzul akram.” lanjut Said yang juga menambahkan emoji menangis.
Lalu masuk ketahap Tahallul Tsani, lanjut Said lagi. Ia memahami Tahallul Tsani sebagai kelahiran kembali dirinya dengan memangkas semua dosa yang melekat dalam jiwanya sehingga timbullah kelapangan hati dengan yakin Allah mengampuni dosa hamba-Nya.
”Dan akhirnya Tahallul Tsani. Gunting menyentuh rambutku. Rambut yang jatuh ke tanah seakan membawa semua dosa yang melekat di jiwa dan tubuh ini. Saat itu aku paham makna ‘kembali seperti bayi yang baru dilahirkan’. Rasanya? Enteng. Lapang. Untuk pertama kali setelah puluhan tahun, aku bisa bernapas tanpa beban dosa. Bukan karena aku suci, tapi karena aku yakin Dia Maha Pengampun,” ungkap Said lagi.
Said menambahkan lagi, haji mengajariku satu hal Allah tidak memanggil yang pantas. Allah memantaskan yang Dia panggil.
Armuzna, Tawaf, Sa’i bukan tentang kuatnya kaki melangkah 40 km. Tapi tentang beraninya hati mengaku salah, lalu berjalan meminta maaf kepada Pemilik Ka’bah.
”Ya Allah, jika Engkau tanya dosaku, sungguh tak terhitung. Tapi jika Engkau tanya rahmat-Mu, sungguh lebih luas dari Arafah, lebih dalam dari sumur Zamzam. Maka terima aku. Jadikan hajiku mabrur. Dan jagalah aku agar tidak kembali mengotori jiwa yang sudah Engkau sucikan. Aamiin,” tutup Said sambil memanjatkan doa.
Seakan tau, awak media juga tersentuh dengan perjalanan spiritualnya melalui penjelasan catatan batinnya, Said berharap pengalaman dan pemahaman catatan batinnya tersebut dapat menjadi hikmah dan pelajaran juga bagi masyarakat luas.
Catatan Bathin Perjalanan Spiritual Menuju Baitullah Jamaah Haji Asal Medan Dan Ungkapan Syukur Bisa Menjalankan Ibadah Haji
