BeritaLokal, Medan – Polemik pembiayaan akomodasi peserta ASEAN U-19 Boys’ Championship 2026 menjadi topik hangat di kalangan tokoh masyarakat dan pengamat sepak bola. Drs H Amiruddin, mantan anggota DPRD Medan, menilai narasi yang menyudutkan Pemko Medan dan Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas sebagai pihak tidak komitmen berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan turnamen internasional.
Amiruddin mempertanyakan adanya dasar hukum resmi yang menyatakan biaya hotel peserta menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada keputusan anggaran, nota kesepahaman, atau pernyataan resmi dari Pemko Medan mengenai kewajiban tersebut. “Narasi itu bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya,” kata dia dalam pidato yang diunggah di media sosialnya.
Pria yang pernah menjabat sebagai ketua DPRD Medan ini menekankan bahwa kebutuhan akomodasi peserta merupakan hal mendasar dalam turnamen internasional. “Jika tidak ada komitmen resmi, maka tudingan terhadap pemerintah daerah tidak memiliki dasar yang kuat,” kata Amiruddin. Ia mengingatkan bahwa dukungan pemerintah daerah seperti persiapan Stadion Teladan dan pembenahan fasilitas pendukung sejak awal harus menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara, bukan hanya pada Pemko Medan.
Amiruddin juga menyoroti munculnya narasi yang menggambarkan PSSI Sumut dan panitia lokal sebagai pihak “menyelamatkan” turnamen karena Pemko Medan tidak bersedia membayar biaya hotel. Ia berpikiran bahwa narasi ini justru mengalihkan perhatian dari aspek utama, yaitu perencanaan dan penganggaran penyelenggaraan. “Jika akomodasi peserta merupakan kebutuhan dasar, mengapa persoalan itu baru menjadi polemik menjelang atau saat pelaksanaan?” tanyanya.
Pria yang menulis artikel ini menegaskan bahwa transparansi dalam pembagian tanggung jawab, mekanisme pengambilan keputusan, dan skema pembiayaan adalah kunci untuk membangun tradisi tata kelola sepak bola profesional di Sumatera Utara. “Kemajuan sepak bola tidak pernah lahir dari budaya saling menyalahkan,” kata dia.
Amiruddin menghimbau PSSI Sumut dan panitia lokal untuk menyikapi polemik ini sebagai bahan introspeksi, bukan sebagai alat membangun opini. Ia juga menyarankan bahwa kekurangan dalam perencanaan akomodasi harus diakui dan diperbaiki, sementara miskomunikasi atau perbedaan persepsi mengenai pembiayaan harus dibuka kepada publik. “Transparansi jauh lebih terhormat daripada membangun opini,” kata dia.
Dalam pidato akhirnya, Amiruddin menekankan pentingnya pembangunan sistem yang terstruktur, termasuk manajemen risiko dan akuntabilitas organisasi dalam penyelenggaraan turnamen internasional. “Kita perlu keberanian mengakui kekurangan dan kesungguhan untuk memperbaikinya,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Produksi Beras Indonesia Mendorong Rekor Puncak di Asia Tenggara Hari Ini
20 Juni 2026
BI Rate Meningkat Kembali, Masyarakat Mulai Ragu Pinjam ke Bank
20 Juni 2026
Pilih Rumah Baru! Jangan Lewatkan Langkah Penting Ini
20 Juni 2026
IMD: Peringkat Daya Saing Indonesia Meningkat
20 Juni 2026
Harga Perak Antam Mengalami Kenaikan Tetap di Rp 43.150 Hari Ini
20 Juni 2026
Timnas Esports Indonesia Tidak Menyabet Tiket Asian Games 2026, Mobile Legends: Dihancurkan oleh Kekecewaan
20 Juni 2026
Lalu Lintas Kapal Tanker Minyak di Selat Hormuz Naik
20 Juni 2026
MSCI Mengungkapkan Keterbukaan Saham Indonesia, Status Emerging Market Tetap Aman
20 Juni 2026
Memuat komentar...