beritalokal.my.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Rabu (3/6/2026) pukul 14.25 WIB berada di level Rp 17.957 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 118 poin dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan data Google, kurs rupiah telah mencapai Rp 17.955 per dolar AS atau mendekati Rp 18.000 per dolar AS.
Di tengah pelemahan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya bergantung pada langkah-langkah yang dilakukan bank sentral.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan ketahanan eksternal perekonomian nasional.
“Bank Indonesia memandang bahwa stabilitas nilai tukar Rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” kata Ramdan, Rabu (3/6/2026).
Menurut dia, koordinasi yang erat antarotoritas dan pelaku ekonomi menjadi semakin penting di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih penuh ketidakpastian. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara baik sekaligus menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Pantau Perkembangan Pasar Keuangan
PerbesarRupiah ambruk hingga menembus level psikologis di Rp17.500 per dolar AS. Tampak dalam foto, seorang menghitung uang kertas Rupiah di salah satu kantor penukaran uang, Jakarta, Selasa 12 Mei 2026, di tengah depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. (BAY ISMOYO/AFP)
Selain memperkuat koordinasi, BI juga terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik. Bank sentral memastikan akan tetap hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ramdan menambahkan, BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki guna menjaga kecukupan likuiditas valuta asing (valas) dan mendukung stabilitas pasar keuangan nasional.
Di samping itu, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama tersebut saat ini telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Menurut BI, kombinasi kebijakan stabilisasi, penguatan koordinasi lintas lembaga, serta perluasan penggunaan mata uang lokal menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan dunia.
