Pentagon Siapkan Kontrak Rp18 Triliun untuk Produksi 300.000 Drone Serang

beritalokal.my.id, Washington D.C – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) berencana menggelar kompetisi bagi perusahaan kecil dan rintisan teknologi untuk memilih pemasok sekitar 300.000 drone serang berukuran kecil.

Menurut laporan The Washington Post pada Senin (1/6/2026), kompetisi tersebut akan berlangsung selama 18 bulan dengan nilai kontrak mencapai 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18 triliun. Dana tersebut diperkirakan cukup untuk pengadaan ratusan ribu drone yang akan digunakan militer Amerika Serikat.

Langkah itu merupakan bagian dari upaya Pentagon memperkuat kemampuan perang nirawak di tengah meningkatnya peran drone dalam konflik modern. Dalam rancangan anggaran pertahanan tahun fiskal mendatang, Pentagon mengalokasikan dana sebesar USD 54,6 miliar untuk memperluas unit perang drone secara signifikan.

Militer AS memperkirakan kebutuhan drone kecil akan terus meningkat sehingga pengadaan dalam jumlah besar perlu dilakukan setiap tahun. Drone yang akan dibeli diperkirakan berharga sekitar USD 5.000 per unit dan dirancang sebagai sistem sekali pakai, dikutip dari Antara News, Rabu (3/6).

Dengan konsep tersebut, kehilangan drone di medan tempur tidak dianggap sebagai beban besar bagi anggaran militer karena biaya penggantiannya relatif rendah dibandingkan sistem persenjataan konvensional.

Sejumlah perusahaan disebut menjadi kandidat kuat dalam kompetisi tersebut, termasuk perusahaan teknologi asal Inggris, Skycutter, serta perusahaan Amerika Serikat, Neros, yang didirikan mantan juara balap drone, Soren Monroe-Anderson.

Neros diketahui telah menjalin kerja sama dengan Angkatan Darat dan Korps Marinir Amerika Serikat dalam pengembangan teknologi drone.

Pentagon berencana mempersempit jumlah peserta menjadi tiga hingga lima pemasok utama. Untuk menentukan pemenang, militer AS akan menggelar serangkaian uji coba yang dirancang menyerupai kondisi pertempuran nyata.

Tahap pertama kompetisi telah digelar pada Februari lalu di Fort Benning, Georgia, dengan melibatkan 26 perusahaan. Dalam pengujian tersebut, peserta diberi waktu dua jam untuk melatih personel militer mengoperasikan sistem drone mereka sebelum dilakukan evaluasi di lapangan.

Drone yang diuji harus mampu menjalankan sejumlah misi, termasuk menghantam target berukuran meja pada jarak hingga sembilan kilometer dan mengirimkan bahan peledak ke dalam bangunan sasaran.

Program ini mencerminkan perubahan strategi militer AS yang semakin mengandalkan sistem nirawak berbiaya rendah untuk meningkatkan efektivitas operasi tempur sekaligus mengurangi risiko terhadap personel di lapangan.



error: Content is protected !!