Uni Eropa Sebut Hubungan Perdagangan dengan China Tak Berkelanjutan

beritalokal.my.id, Jakarta – Komisi Eropa pada Jumat, 29 Mei 2026 menyatakan, kondisi hubungan perdagangan dan investasi Uni Eropa-China saat ini “tidak berkelanjutan,” dan memperingatkan meningkatnya kekhawatiran ekonomi dan keamanan membutuhkan respons yang lebih koheren dari blok tersebut.

Dalam pernyataan yang dirilis setelah pertemuan Dewan Komisioner tentang hubungan Uni Eropa-China, Komisi menegaskan kembali kebijakannya untuk “mengurangi risiko, bukan memisahkan diri” dari China.

“China adalah mitra penting, dan keterlibatan serta dialog akan terus berlanjut,” demikian disebutkan dalam pernyataan itu dikutip dari Anadolu, Minggu, (31/5/2026).

Namun, blok tersebut mengakui meningkatnya ketegangan struktural dalam hubungan tersebut. “Kondisi hubungan perdagangan dan investasi saat ini tidak berkelanjutan. Karena kepentingan ekonomi dan keamanan semakin saling, kedua dimensi tersebut akan membutuhkan respons yang lebih kuat dan koheren,” disebutkan dalam pernyataan itu.

Komisi mengatakan pertemuan Jumat akan menjadi masukan bagi pekerjaannya dalam beberapa minggu mendatang menjelang diskusi lebih lanjut di KTT G7 di Prancis dan pertemuan Dewan Eropa pada Juni.

Mengutip Yahoo Finance, isu ini telah memecah belah Uni Eropa. Menteri Ekonomi Jemran Katherina Reiche memperingatkan setiap tindakan Uni Eropa terhadap China tidak boleh menghambat penjualan Eropa ke negara itu.

Yang lain menyerukan tindakan yang lebih tegas. Sebuah makalah yang diedarkan akhir pekan lalu, yang didukung oleh Prancis, Italia, Belanda, Spanyol, dan Lithuania, mengusulkan agar Uni Eropa mengadopsi alat pertahanan perdagangan lintas sektor yang baru.

Menjelang pertemuan Jumat, China memperingatkan Uni Eropa setiap pembatasan baru terhadap ekspornya akan mengakibatkan tindakan balasan.

 

Produk Kendaraan Listrik China Dihadang Uni Eropa, Beijing Balas Dendam

Sebelumnya, China membuka penyelidikan antisubsidi terhadap produk susu impor dari Uni Eropa pada Rabu (21/8/2024), meningkatkan ketegangan dengan blok tersebut sehari setelah Brussels merilis rancangan keputusan revisinya untuk mengenakan tarif pada kendaraan listrik buatan China.

Mengutip Channel News Asia, Kamis (22/8/2024) penyelidikan antisubsidi terhadap produk susu Eropa yang diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China akan difokuskan pada berbagai jenis keju, susu, dan krim yang ditujukan untuk konsumsi masyarakat.

Penyelidikan tersebut didorong oleh pengaduan yang diajukan oleh Asosiasi Produk Susu China dan Asosiasi Industri Produk Susu China pada tanggal 29 Juli atas nama industri susu dalam negeri, ungkap kementerian tersebut.

Negara itu akan memeriksa 20 skema subsidi produk susu dari 27 negara anggota blok tersebut, khususnya dari Austria, Belgia, Kroasia, Republik Ceko, Finlandia, Italia, Irlandia, dan Rumania.

Dari negara-negara yang tercantum, Irlandia sejauh ini merupakan eksportir produk susu terbesar ke China, setelah menjual barang senilai USD 461 juta atau Rp.7,1 triliun ke negara tersebut tahun lalu.

Sebelumnya,Uni Eropa pada Selasa, 20 Agustus merevisi bea masuk yang diusulkan atas impor kendaraan listrik China menjadi 36,3 persen dari bea masuk awal yang direncanakan sebesar 37,6 persen, tetapi gagal membatalkannya, seperti yang diminta Beijing kepada Brussels.

Diketahui, Eropa merupakan sumber produk susu terbesar kedua bagi China dengan setidaknya 36 persen dari total nilai impor pada tahun 2023, hanya di belakang Selandia Baru, menurut data bea cukai China.

UE mengekspor produk susu senilai 1,7 miliar euro ke China pada 2023, turun dari 2 miliar pada tahun 2022, menurut data dari Direktorat Jenderal Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Komisi Eropa, yang mengutip Eurostat.

 

Bukan Hal Baru

Ini bukan pertama kali China melakukan penyelidikan terhadap barang-barang impor dari Eropa. Negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu sebelumnya telah meluncurkan penyelidikan antidumping terhadap impor daging babi dari Eropa pada bulan Juni, yang sebagian besar memengaruhi Spanyol, Belanda, dan Denmark, sebagai tindakan balasan terhadap tarif kendaraan listrik.

“Nilai gabungan ekspor daging babi dan susu UE ke China, area barang yang berpotensi terpengaruh oleh tarif lebih kecil daripada nilai ekspor baterai kendaraan listrik China ke UE, yang kami perkirakan mencapai sekitar USD 13,5 miliar pada tahun 2023,” kata Chim Lee, analis senior China di Economist Intelligence Unit.

“Tekanan ekonomi domestik, di samping peran yang semakin penting yang dimainkan oleh permintaan eksternal dalam mendukung ekonomi China, akan membuat para pembuat kebijakan berhati-hati dalam menerapkan pendekatan yang terlalu konfrontatif terhadap perdagangan,” bebernya.



error: Content is protected !!