BeritaLokal, Jakarta – Beritalokal, Washington, DC, Wakil Presiden Amerika Serikat (Wapres AS) JD Vance mengungkapkan bahwa perjanjian damai antara AS dan Iran masih dalam proses negosiasi, meski kedua pihak mendekati pencapaian kesepakatan. Vance menegaskan bahwa Trump belum memastikan waktu atau kondisi terakhir sebelum kesepakatan dapat ditandatangani. “Kami sangat dekat, tetapi belum sampai di sana,” kata Wapres AS dalam wawancara dengan BBC.
Negosiasi yang berlangsung sejak 8 April telah menunjukkan kemajuan, namun masih terdapat perdebatan penting. Vance menyebutkan bahwa para pejabat AS dan Iran sedang memperbarui kerangka dasar kesepakatan, termasuk pembahasan isu pengayaan uranium. Poin-poin ini menjadi fokus utama karena mereka berkaitan dengan kekhawatiran AS terhadap program nuklir Iran. Sementara itu, pihak Iran mengecam klaim AS bahwa kesepakatan belum dirampungkan, meski kantor berita semi-resmi Iran menyebutnya sebagai “rekayasa sepenuhnya”.
Pertemuan antar-pihak tercatat di luar ranah publik, dengan kedua negara mempertahankan kebijakan masing-masing. AS menegaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata akan memberikan waktu untuk membahas isu teknis seperti program nuklir Iran dan pengekalan stok uranium. Vance menyebutkan bahwa AS siap mengambil atau bersama Iran mengembalikan stok uranium yang diperkaya, sementara Iran diizinkan memperbarui jalur pelayaran Selat Hormuz. Namun, kantor berita Axios menyebut Trump telah menerima informasi tentang proposal tersebut, tetapi belum memberikan persetujuan definitif.
Sementara itu, laporan dari media pemerintah Iran mengungkapkan adanya memorandum kesepahaman 14 poin yang mencakup pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan pemulihan lalu lintas nonmiliter melalui Selat Hormuz. Namun, Gedung Putih menolak mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah tercapai, menyatakan keputusan akhir tetap di tangan Trump.
Tegangannya antara AS dan Iran semakin meningkat. Pada Kamis, IRGC menyebutkan serangan AS ke wilayah selatan Iran, sementara pihak AS membantah klaim tersebut. Kedua belah pihak juga terlibat perdebatan tentang keterlibatan militer, dengan AS mempertahankan “opsi B” (kembali ke operasi tempur) sebagai alternatif jika kesepakatan tidak segera ditandatangani.
Negosiasi yang berlangsung masih dihambat oleh ketidakjelasan dalam detail teknis dan tekanan politik dari negara-negara sekutu AS. Vance mengatakan bahwa AS tetap percaya Iran memiliki “itikad baik” dalam negosiasi, meski perbedaan pendapat terus berlangsung. Proses ini memperlihatkan bahwa kejutan mungkin terjadi sebelum kesepakatan akhir dapat ditandatangani.
Artikel Terkait
Produksi Beras Indonesia Mendorong Rekor Puncak di Asia Tenggara Hari Ini
20 Juni 2026
BI Rate Meningkat Kembali, Masyarakat Mulai Ragu Pinjam ke Bank
20 Juni 2026
Pilih Rumah Baru! Jangan Lewatkan Langkah Penting Ini
20 Juni 2026
IMD: Peringkat Daya Saing Indonesia Meningkat
20 Juni 2026
Harga Perak Antam Mengalami Kenaikan Tetap di Rp 43.150 Hari Ini
20 Juni 2026
Timnas Esports Indonesia Tidak Menyabet Tiket Asian Games 2026, Mobile Legends: Dihancurkan oleh Kekecewaan
20 Juni 2026
Lalu Lintas Kapal Tanker Minyak di Selat Hormuz Naik
20 Juni 2026
MSCI Mengungkapkan Keterbukaan Saham Indonesia, Status Emerging Market Tetap Aman
20 Juni 2026
Memuat komentar...