BeritaLokal, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa S&P Global Ratings telah mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada tingkat BBB untuk jangka panjang dan A‑2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil, sebuah keputusan yang sekaligus menandai “Purbaya Usai S&P Pertahankan Rating RI: Beli Saham, Kalau Punya Dolar Jual!” di pasar modal. Pada peresmian rilis ini, yang diselenggarakan di Kompleks Parlemen pada 16 Oktober 2025, Purbaya menegaskan bahwa prediksi tinggi atas kondisi ekonomi Indonesia ternyata tidak berdampak pada penurunan rating, dan menolaknya semua spekulasi tentang downgrade yang beredar sebelum keputusan ini diumumkan. Turut hadir di acara tersebut, para perwakilan lembaga pemeringkat lainnya, serta pejabat-tanda tangan pemerintahan yang berperan dalam kebijakan fiskal dan struktural yang menjadi fondasi bagi stabilitas ekonomi nasional.
Keputusan kurator kredit tersebut menghadirkan lebih dari sekedar angka; ia merupakan cerminan kepercayaan global terhadap kebijakan fiskal Indonesia yang sempat digali selama beberapa tahun terakhir. Purbaya menegaskan, “sebuah sinyal kuat bahwa kekhawatiran akan kondisi ekonomi domestik tidak terbukti.” Ia menyorot fakta bahwa tingkat utang publik atas PDB masih dalam batas toleransi dan defisit fiskal mendekati target yang telah ditetapkan, sehingga memungkinkan pemerintah terus memperkuat pemasukan melalui reformasi pajak yang lebih efisien dan peningkatan produktivitas. Selanjutnya, ia menambahkan bahwa reputasi kredit yang dipertahankan akan membuka akses pinjaman bersyarat lebih baik bagi perusahaan dan pihak swasta, sekaligus menurunkan biaya neleksi bagi Indonesia di pasar global.
Selain itu, Purbaya secara tegas mengarahkan investor ke arah aksi konkret dengan menyatakan, “kalau (investor) pinter ya harus cepat. Kalau investor pinter, domestik pinter, masuk aja sekarang.” Ia mengajak mereka untuk menilai pasar secara responsif dan memanfaatkan momentum positif ini untuk membeli saham domestik sambil menjual dolar AS, sebuah strategi yang sesuai dengan baru diumumkannya keputusan pimpinan lembaga pemeringkat. Namun, ia tidak memberikan proyeksi numerik tentang besarnya kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau nilai tukar rupiah, bila memang menanyakan hal tersebut, ia menunjukkan bahwa langkah korektif dan kepercayaan terukur lebih penting daripada prediksi berskala kuantitatif.
Momentum Pasar Investor
Menyerupai seorang kapten yang menavigasi biru luas, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga jalur kebijakan yang konsisten sekaligus memperbaiki inefisiensi dalam sistem ekonomi. Ia menyoroti keraguan yang pernah mengayun di kalangan analisis pasar mengenai arah kebijakan pemerintah, sekaligus menunjukkan bahwa “ketika semua orang bilang ada kemungkinan kita akan di‑downgrade, tidaklah sekadar outlook yang menurun begitu saja, tetapi itu justru menguatkan kredibilitas kami.” Kemudian ia menekankan komitmen pemerintah untuk menanggapi inefisiensi yang masih ada, menertibkan birokrasi, mengoptimalkan regulasi, dan memperlancar alur pembayaran bagi perusahaan serta masyarakat.
Sementara itu, Pernyataan “Purbaya Usai S&P Pertahankan Rating RI: Beli Saham, Kalau Punya Dolar Jual!” juga diungkap sebagai indikator kuat bahwa pengelolaan fiskal Indonesia berada pada tingkat prudensial, yang menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam kuliah singkatnya, Purbaya menjelaskan bahwa pemeriksaan fiskal telah mengidentifikasi titik-titik kelemahan seperti potensi pengeluaran yang tidak perlu dan kesenjangan pendapatan, yang kemudian diatasi lewat kebijakan penghematan dan peningkatan penerimaan. Ia menegaskan, “ini merupakan pengakuan internasional bahwa kita mampu mengelola fiskal dengan baik, prudent, dan menciptakan penumbuhan yang banyak sekali.”
Selanjutnya, ia menyinggung fakta bahwa stabilitas makro sisi inflasi dan suku bunga tetap di bawah ambang tertentu, menyiapkan data langsung yang memungkinkan otoritas moneter mengendalikan risiko volatilitas. Dengan kondisi ini, Purbaya memandang bahwa investor domestik dan asing dapat merasakan sinergi kebijakan fiskal yang terintegrasi dengan kebijakan moneter, sehingga pasar modal dan obligasi menjadi lebih menarik bagi pembiayaan berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa “seharusnya ke depan sentimen negatif di pasar modal, di pasar obligasi, maupun nilai tukar rupiah akan hilang dengan cepat,” sehingga secara agregat mengoptimalkan struktur modal rumah tangga dan korporasi.
Akhirnya, Purbaya menekankan pentingnya hubungan kerja sama antara pemerintah, lembaga pemeringkat, dan komite pasar modal dengan tetap menjaga transparansi, sekaligus menyiapkan kebijakan fiskal dan moneter yang responsif terhadap dinamika global. Ia menegaskan, “kami akan menjaga konsistensi kebijakan, memperbaiki sistem, dan memastikan kejernihan data bagi investor internasional.” Penekanan ini beresonansi dengan kilat aksi yang diusulkan, yakni pembelian saham domestik sekaligus penjualan dolar secara strategis, menandai momen transisi pasar ke arah yang lebih positif dan berdaya guna, lalu publikasi berita ekonominya.
Artikel Terkait
Thom Haye Rekan Meriahkan Piala AFF dengan 3 Assist
27 Juli 2026
Piala AFF 2026: Nilai Pasar Timnas Indonesia Termahal
27 Juli 2026
Tempat Menonton Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari
27 Juli 2026
Kerja Migran Indonesia di Malaysia Porsi 50,6%
27 Juli 2026
Orkestra TRUST Raih Juara Utama di Beijing 2026
27 Juli 2026Perry Warjiyo Mundur, Bank Indonesia Tetap Stabil
27 Juli 2026
Super El Niño Memaksa Indonesia Rentan Inflasi Global
27 Juli 2026
Indonesia Juara China Open 2026, Ganda Putra Mencetak Sejarah
27 Juli 2026
Memuat komentar...