66.574 Penyandang Disabilitas di Indonesia Kuasai AI Lewat Program Ini

BeritaLokal, Jakarta – Beritalokal.my.id, Jakarta, Program EQUAL, kolaborasi antara Microsoft Indonesia dan Alunjiva Indonesia, berhasil membawa perubahan signifikan dalam memperluas akses teknologi bagi penyandang disabilitas dan kelompok masyarakat terpinggir di Indonesia. Dalam gelombang kedua yang berlangsung hingga 30 April 2026, program ini menjangkau 112.058 peserta, termasuk 66.574 penyandang disabilitas dan 45.484 perempuan serta pemuda, membuktikan bahwa inklusivitas teknologi bukan lagi impian, tapi keharusan.

Pendekatan komunitas menjadi kunci sukses program ini. Alunjiva Indonesia mengutamakan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, dengan materi pembelajaran disesuaikan untuk disabilitas, ruang belajar inklusif, dan fasilitator berbentuk komunitas yang terlibat para penyandang disabilitas sendiri. “Kami percaya literasi AI harus mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari,” kata Nicky Clara, pendiri Alunjiva Indonesia, dalam wawancara terkini.

Target program EQUAL adalah membekali satu juta talenta Indonesia dengan keterampilan AI, menjawab tantangan transformasi digital nasional. Dharma Simorangkir, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, menyatakan bahwa kolaborasi ini dirancang untuk mengakses seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. “Kami mendorong pemanfaatan teknologi seperti Microsoft Copilot untuk membantu perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas dalam meningkatkan produktivitas,” kata Dharma.

Pemerintah mendukung inisiatif ini dengan mengambil posisi dari MPR RI melalui Wakil Ketua Lestari Moerdijat. Ia menegaskan bahwa inklusivitas digital adalah keharusan, bukan pilihan, untuk memperluas peluang ekonomi bagi UMKM dan penyandang disabilitas. Transformasi digital sehat harus mencegah perbedaan akses yang tidak setara.

Dalam gelombang pertama hingga 30 Juni 2025, program telah merangkul 211.377 peserta dari berbagai daerah. Dengan demikian, hasilnya mencapai 66% dari target sebelumnya. Kinerja program juga diterima positif oleh para penerima manfaat, yang menilai bahwa akses teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan ekonomi.

Dalam visinya, AI diharapkan tidak hanya menjadi teknologi masa depan yang rumit, tetapi alat transformasi nyata. “Kami ingin AI jadi bantuan untuk menciptakan peluang ekonomi baru,” kata Nicky. Dengan pendekatan inklusif dan dukungan pemerintah, program EQUAL menunjukkan bahwa kecerdasan buatan bisa menjadi jembatan kesejahteraan sosial bagi semua.

Artikel Terkait

0