BeritaLokal, Jakarta – Film horor-komedi Dukun Magang yang tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2026 menampilkan dua tokoh utama, Jefan Nathanio dan Hana Saraswati. Pemeran Raka dan Sekar ini tak hanya menghadirkan perpaduan humor yang menciptakan ketawa, tetapi juga menjalani syuting dengan suasana yang memperkaya karakter mereka. Meski berbeda usia-Jefan 20 tahun vs Hana 29 tahun-kedua aktor berhasil membangun hubungan chemistry yang kuat dalam perannya.
Ketika diwawancara oleh Showbiz, Jefan Nathanio menyebutkan bahwa film ini menggabungkan elemen horor dan komedi dengan rasio 80:20. “Aku senang bisa tampil dalam film yang menarik dan menyenangkan,” ujarnya. Keterbukaannya terlihat dari wajahnya yang tidak kaku saat menjelaskan kekhawatiran awal tentang perbedaan usia. Namun, ia menegaskan bahwa gap usia justru menjadi peluang untuk memperkuat tampilan mereka. “Dalam industri film, kami sering berteman dengan pemeran lebih tua atau muda, sehingga keduanya bisa bercerita secara alami,” kata Jefan.
Sementara Hana Saraswati mengaku tak terganggu oleh usia perbedaan. Ia menekankan bahwa ketertarikan pada karakter Sekar-mahasiswi cerdas dan percaya diri-menjadi fondasi utama penampilannya. “Karakter saya dianggap sebagai versi modern dari tokoh mistis tradisional,” kata Hana, yang juga terlibat dalam sinetron Asmara Gen Z.
Film karya sineas Chiska Doppert ini menggabungkan naskah Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho. Di antaranya adalah Raka, seorang mahasiswa yang terancam menjadi “mahasiswa abadi” karena skripsi yang selalu ditolak dosen. Dengan ide berpindah ke Desa Kalimati untuk mengkaji praktik perdukunan, karakternya bertahan di tengah ketidaknyamanan lingkungan.
Selain itu, film ini juga menampilkan tokoh-tokoh lain seperti Sisca (diperankan oleh Rizal Nuryadi) dan Kusuma (diperankan oleh Yunita Kurnia). Mereka memberikan kontribusi berbeda dalam memperkuat kisah yang sekaligus menggambarkan kehidupan nyata di pelosok Indonesia.
Dalam penuturan Jefan, ia menyebutkan bahwa film ini bukan hanya tentang perayaan akting, tetapi juga cerita tentang pertumbuhan diri. “Kami ingin menunjukkan bagaimana keterbukaan dan kerja sama bisa mengubah keadaan,” kata pemerannya. Dengan alur yang seimbang antara seru dan menyenangkan, Dukun Magang diharapkan mampu menciptakan pengalaman film yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna.