Siapa yang Untung Piala Dunia 2026

BeritaLokal, New – Bisnis Piala Dunia 2026: Perputaran Rp 734 triliun hanya untungkan segelintir pihak. 19 Juli 2026 menandai selesainya kejuaraan yang menetapkan rekor jumlah peserta, 48 tim yang bersaing di 16 kota terpilih di Amerika Utara, saat Argentina menghadap Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey. Peristiwa ini menyalurkan dana menakjubkan ke berbagai lapisan, dari penyiaran hingga taruhan, sekaligus menimbulkan kritik tajam bagi penyelenggara dan para pengunjung.

FIFA mengiklankan keuntungan bersih mencapai US$ 13 miliar, setara dengan Rp 232,9 triliun, berkat ekspansi jumlah tim tetap menjadi pendorong utama. Ketika pelatih dan pemain di stadion berlomba, FIFA juga memperoleh pendapatan dari hak siar, lisensi, sponsor, penjualan tiket, dan pajak penjualan ulang 15 % pada transfer tiket. Ini menambah dana yang tercermin di laporan keuangan FIFA dan menjadi motivasi jelas dari rencana perluasan berikutnya, yang seiring waktu berharap memasukkan 64 tim.

Pihak yang Meraup Untung

Lembaga penyiaran menanamkan keuntungan yang signifikan dengan kontrak hak siar bernilai US$ 485 juta (≈ Rp 8,7 triliun). Dengan jeda minum dalam pertandingan, penyiar membayar sponsor untuk menayangkan iklan selama 90 detik. Harganya mulai dari US$ 200 ribu (≈ Rp 3,6 triliun) untuk spot 30 detik, naik hingga US$ 750 ribu (≈ Rp 13,4 triliun) pada babak final. Semua kombinasi ini menghasilkan tambahan pendapatan hingga US$ 250 juta (≈ Rp 4,4 triliun) bagi penyiar. Selain itu, supermarket, minuman, dan brand global seperti Adidas dan Coca‑Cola menukupi persyaratan sponsorship mereka, menambah margin bagi pihak terkait.

Saya David Beckham, meski sudah pensiun, tetap menjadi sorotan iklan Adidas yang diciptakan AI. Klub Inter Miami, kepemilikan saya, menjadi klub paling menguntungkan MLS dengan aset sebesar US$ 1,45 miliar (≈ Rp 26 triliun). Dengan pencitraan terintegrasi dalam kampanye Piala Dunia, Beckham secara tak langsung memicu pergerakan ekonomi lebih lanjut bagi sponsor dan jaringan distribusi.

Perusahaan judi tak kalah memayungi industri pramugari penawaran taruhan. Macquarie beranggapan akan ada US$ 500 juta (≈ Rp 9 triliun) pada setiap pertandingan, total menembus US$ 50 miliar (≈ Rp 895,3 triliun) jika menimbang lebih dari 100 pertandingan serta pangsa pasar yang melonjak di AS dan Brasil. Dengan in‑play betting, petaruh tidak lagi menunggu final, memungkinkan potensi margin 2 x dibanding Piala Dunia sebelumnya.

Pemain, Negara, dan Hotel Terkikis

Para penggemar yang berada di stadium menghadapi beban ekonomi selain mempersiapkan tiket, perjalanan, dan akomodasi. Harga tiket final MetLife berkisar pada US$ 32,970 (≈ Rp 590,7 juta), sedangkan tiket resale bulan lalu melebihi US$ 2 juta (≈ Rp 35,8 triliun). Indonesia juga melaporkan akses transportasi publik mengenai lonjakan harga, yakni jarak 30 menit dari zona transit New Jersey meningkat dari US$ 12,90 (≈ Rp 231,4 ratus ribu) menjadi US$ 150 (≈ Rp 2,7 juta). Faktanya bahkan ada pernyataan Presiden AS yang lebih menyatakan tidak akan membeli tiket, menambahkan kesan kesenjangan antara harga tiket dan kemampuan publik.

Negara penyelenggara-AS, Kanada, dan Meksiko-memiliki gambaran optimis proyeksi ekonomi sebesar US$ 41 miliar (≈ Rp 734,5 triliun) serta US$ 17 miliar (≈ Rp 304,5 triliun) bagi AS saja. Mereka mengklaim penciptaan 185.000 lapangan kerja di sektor perhotelan. Namun, riset University of Oxford oleh Alexander Budzier mengingatkan bahwa keuntungan ekonomis tidak tercapai secara langsung. Peningkatan okupasi hotel tidak konsisten; banyak kota menunjukkan lonjakan permintaan pada jangka singkat namun tidak menjanjikan pendapatan berkelanjutan. Kawasan seperti Stratford berujung pada proyek pembangunan bekas Olimpiade 2012, sedangkan Piala Dunia ini tidak menghasilkan langkah serupa.

Asosiasi Hotel British Columbia menyatakan bahwa meskipun Vancouver menampung tujuh pertandingan, permintaan kamar turun dibanding tahun lalu, dan 80 % operator di AS mengeluhkan pemesanan di bawah perkiraan. Hal ini menjadi penalti bagi GDP lokal dan menawar posisi hosting sebagai pelatihan ekonomi regional. Kritik mengarah pada strategi FIFA diri kalikan semua kebutuhan logistiknya sendiri sehingga menciptakan permintaan “palsu” bagi industri perhotelan.

Dalam konteks dinamika dunia media, pertanyaan timbul mengenai apakah keuntungan ritak yang dialami pihak FIFA dan mitra bisnisnya dapat diandalkan sebagai pemerataan ekonomi. Bilamana investor dan penonton membawa manfaat melewati pekak, tetap terlepas dari fakta bahwa taruhan, sponsor hingga hak siar menjadi pemain utama, saat diperkuat tersebut “Bisnis Piala Dunia 2026: Perputaran Rp 734 triliun Hanya Untungkan Segelintir Pihak” masih menjadi ringkasan bersih bagi sejumlah pemangku kepentingan.

Artikel Terkait

0