[BeritaLokal], Jakarta – Pasar keuangan nasional mengalami pergerakan dinamis pada awal sesi perdagangan hari ini, dengan rupiah sempat menyentuh level Rp 18.200 per dolar AS, angka yang mencerminkan kecenderungan penguatan yang dipengaruhi oleh pergeseran sentimen geopolitik global. Meski demikian, sentimen domestik yang masih terkendala oleh tekanan ekonomi dan kepercayaan masyarakat tetap menjadi penghambat utama bagi penguatan yang berkelanjutan.
Penguatan rupiah pada pagi hari ini, yang mencapai Rp 18.134 per dolar AS pada pembukaan sesi, merupakan reaksi langsung terhadap penurunan tekanan geopolitik di Timur Tengah. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan ini didorong oleh “peringatan damai” yang dikeluarkan oleh pihak Iran dan Israel setelah eskalasi konflik regional mulai meredup. Menurut laporan dari Kantor Berita Tasnim dan Anadolu, Angkatan Bersenjata Iran menghentikan serangan terhadap Israel, namun tetap memberikan ancaman keras jika agresi terhadap Lebanon berlanjut. “Tindakan yang jauh lebih parah dan menghancurkan akan menanti,” tegas pernyataan Iran, menunjukkan bahwa meski konflik berhenti, ketegangan tetap ada di ambang krisis.
Sementara itu, pihak Israel dan Washington secara resmi mengirim pesan kepada Iran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan dari Tel Aviv jika Iran tidak melanjutkan serangan. Hal ini membantu menstabilkan pasar global, termasuk pasar valuta asing di Indonesia, yang mengalami “koreksi” terhadap tekanan harga minyak dunia yang terus turun. Dengan harga minyak turun seiring dengan penurunan risiko konflik, nilai tukar rupiah secara implisit mendapat dukungan dari investor global yang mencari “safety haven”.
Namun, meski level Rp 18.200 menjadi titik tertinggi dalam sesi perdagangan, penguatan ini tidak terlalu signifikan. Sejak pagi, rupiah sempat menembus angka Rp 18.229 per dolar AS pada pukul 07.10 WIB, namun kemudian mulai mengalami tekanan dan kembali ke level Rp 18.025 pada pukul 07.05 WIB. Penurunan ini menunjukkan bahwa meski ada “faktor positif” dari geopolitik, sentimen domestik tetap menjadi penentu utama. “Penguatan akan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih negatif,” kata Lukman, menekankan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi nasional dan stabilitas politik masih menjadi “penahan” utama.
Secara historis, rupiah mengalami tekanan signifikan sepanjang tahun ini, dengan penurunan hampir 10 persen sejak awal tahun. Pada awal tahun, rupiah tercatat di level Rp 16.683 per dolar AS. Dengan latar belakang ini, penguatan yang terjadi hari ini hanya bisa dianggap sebagai “recovery short-term”, bukan indikasi kekuatan jangka panjang. Investor dan pemangku kepentingan ekonomi harus tetap waspada terhadap risiko domestik, termasuk inflasi, kebijakan moneter, dan stabilitas keuangan perbankan.
Dalam konteks global, pergerakan rupiah juga mencerminkan dinamika pasar valuta asing yang terus beradaptasi dengan perubahan politik dan ekonomi. Namun, krisis kepercayaan internal tetap menjadi “hambatan besar” yang harus diatasi agar rupiah bisa menunjukkan kinerja yang lebih stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.