BeritaLokal, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan Jakarta sebagai kawasan paling terdampak kenaikan air muka laut, sambil memperkuat kebijakan untuk menekan risiko banjir rob. Dalam acara Dialog Kebijakan Nasional Kenaikan Muka Air Laut di Jakarta, AHY mengungkapkan urgensi penanganan masalah ini sebelum tumbuh lebih parah.
Selain itu, AHY menyatakan bahwa Jakarta menjadi kawasan paling terdampak akibat naiknya permukaan air laut dan penurunan tanah akibat land subsidence yang disebabkan oleh ekstraksi air tanah berlebihan serta beban pembangunan kota. “Jakarta merupakan kawasan yang paling terdampak karena kenaikan permukaan air laut sekaligus penurunan tanah, yang memperparah risiko banjir rob,” kata AHY dalam pidato di Gedung Sate, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Pihaknya menekankan bahwa tata ruang harus dikelola secara serius untuk menghindari penyalahgunaan sumber daya air dan menjaga kapasitas aliran air. “Kita harus memastikan bahwa air tetap bersih dan dapat digunakan oleh masyarakat serta industri,” ujarnya. AHY menyebutkan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan banjir di wilayah hilir, terutama di pesisir utara Jawa.
Dalam rangka mitigasi risiko tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan tanggul laut ultra raksasa sepanjang pesisir utara Jawa, dengan panjang sekitar 500-700 kilometer dan estimasi biaya US$ 80 miliar atau sekitar Rp 1.298 triliun. Proyek ini diperkirakan akan memakan waktu 15-20 tahun untuk selesai. Selain itu, pemerintah juga menawarkan pendekatan alami seperti rehabilitasi mangrove sebagai benteng alami yang dapat melindungi masyarakat dan lingkungan.
“Kita harus fokus pada keamanan manusia terlebih dahulu,” kata AHY. Ia menegaskan bahwa tanggul jebol bisa menyebabkan kerusakan lebih besar, baik bagi masyarakat maupun ekonomi. “Jika tidak diatasi secara tepat, risiko banjir rob akan mengancam kawasan industri dan kota yang berpotensi tumbuh,” ujar AHY.
Pihaknya juga menilai pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan air dan melibatkan komunitas pesisir dalam pengelolaan sumber daya alam. “Kebijakan ini bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang kesadaran bersama untuk memastikan Jakarta tetap layak huni,” kata AHY.
Dalam analisis singkat, keputusan AHY menunjukkan bahwa pemerintah menggabungkan solusi teknis dengan pendekatan kemanusiaan. Strategi pembangunan tanggul laut dan rehabilitasi mangrove diharapkan menjadi langkah pertama untuk mengurangi dampak banjir rob, sementara kebijakan tata ruang yang tepat akan memastikan penggunaan air tetap seimbang. Tindakan ini juga mencerminkan upaya pemerintah untuk menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah tekanan iklim dan perubahan geografis.
Strategi Pemerintah Tekan Harga
Pemerintah Jawa Barat menilai bahwa kebijakan pengelolaan air harus ditingkatkan untuk menghadapi kenaikan permukaan air laut. Dalam dialog nasional, AHY menyatakan bahwa Jakarta menjadi kawasan paling terdampak akibat land subsidence yang disebabkan oleh ekstraksi air tanah dan pembangunan kota. Kebijakan ini memperkuat peran tata ruang untuk menjaga kapasitas aliran air, mengurangi risiko banjir rob, serta memastikan sumber daya air tetap terkendali.
Risiko Banjir Rob Menunggu Tanggul Laut
Risiko banjir rob di pesisir utara Jawa menunggu pembangunan tanggul laut yang akan mengamankan wilayah hilir. AHY menyebutkan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan akibat kenaikan permukaan air, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. Proyek tanggul laut dengan panjang 500-700 kilometer dan biaya US$ 80 miliar dinilai penting untuk menghadapi ancaman banjir rob secara berkelanjutan.
Kebijakan Alami untuk Mengamankan Masyarakat
Selain infrastruktur, pemerintah juga memprioritaskan upaya rehabilitasi mangrove sebagai benteng alami. Perbaikan ekosistem ini diharapkan mampu melindungi masyarakat dari dampak banjir rob sementara menjamin keseimbangan lingkungan. AHY menyatakan bahwa kebijakan ini mengutamakan keamanan manusia, dengan harapan masyarakat dapat beradaptasi dan memperbaiki kondisi secara mandiri.
Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Jawa Barat menunjukkan upaya multisectoral untuk menghadapi kenaikan permukaan air laut. Strategi pengelolaan air melibatkan perubahan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan lingkungan. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap dapat meminimalkan dampak banjir rob dan menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah tekanan iklim yang terus meningkat.
Artikel Terkait
Hari Mangrove Gandeng 2.500 Bibit di Pulau Pramuka
27 Juli 2026
PNM Tanam 22 Ribu Mangrove, Lindungi Pesisir dan Ekonomi
26 Juli 2026
Karbon Biru Indonesia: Potensi 17% untuk Mitigasi Iklim
9 Juli 2026
Catatan dari ASR Festival 2026 di Jakarta, Usung Tema Beyond the Stay
18 Juni 2026
Bukalapak Gandeng Visi Jaya dan Pelindo Tanam Bibit Mangrove di Muara Gembong
10 Juni 2026
Bunga Simpanan Tetap di atas Tingkat Penjaminan LPS
27 Juli 2026
Prabowo Panggil KSSK Dan Danantara, Tegaskan Koordinasi Kuat
27 Juli 2026
IPO chip CXMT naik 465% dan melompati Rp 216 triliun
27 Juli 2026
Memuat komentar...