beritalokal.my.id, Jakarta – Kepala Badan Komunikasi (Bakom), M. Qodari, mengatakan, kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis difokuskan untuk memperkuat kerja sama strategis antara kedua negara, khususnya di bidang pertahanan, pendidikan, energi, dan pengelolaan sumber daya mineral.
Menurut Qodari, lawatan tersebut merupakan kunjungan balasan atas kedatangan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada tahun sebelumnya. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral sekaligus menindaklanjuti berbagai kerja sama yang telah dibangun kedua negara.
Qodari menjelaskan, salah satu agenda utama yang telah disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono adalah penguatan kerja sama di sektor pertahanan. Langkah tersebut dinilai penting mengingat Indonesia telah menerima sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Prancis yang perlu didukung dengan penguasaan teknologi.
“Kemudian Pak sugiono pada kesempatan itu telah menyampaikan target kerja sama pertama di bidang ketahanan. Karena kita tahu Indonesia sudah menerima alutsista dari Prancis karena itu diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut,” kata Qodari dalam Konferensi Pers di Wisma Danantara, Minggu (31/5/2026).
Selain sektor pertahanan, kerja sama Indonesia dan Prancis juga diarahkan pada bidang pendidikan, terutama pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Menurut Qodari, penguatan sektor pendidikan menjadi instrumen penting dalam mendorong transfer teknologi yang dibutuhkan Indonesia.
Ia menambahkan, kedua negara juga membahas peluang kerja sama di bidang energi serta pemanfaatan mineral. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan industri nasional dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Modal Penting
PerbesarKepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Qodari menilai, hubungan Indonesia dan Prancis tidak hanya dibangun melalui kerja sama formal antar negara, tetapi juga ditopang oleh kedekatan personal antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron.
“Di luar itu dapat dilambangkan memang kita semua dapat mengetahui ada hubungan personal yang sangat kuat antara kedua kepala negara. Dan kita tahu modal sosial tidak kalah pentingnya dengan modal yang lain, baik itu ekonomi maupun politik,” tuturnya.
Menurut dia, hubungan personal yang baik antara pemimpin negara dapat menjadi modal penting dalam mempercepat terwujudnya berbagai kerja sama strategis.
Dalam kesempatan yang sama, Qodari juga menegaskan, agenda resmi kunjungan Presiden Prabowo sejak awal hanya mencakup Prancis. Penegasan tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang berkembang mengenai kemungkinan kunjungan ke negara lain.
Hasilkan 4 Kesepakatan
PerbesarPeluncuran dewan bisnis tingkat tinggi tersebut dilakukan pada 28 Mei 2026 di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyambut peluncuran France–Indonesia High Level Business Council sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Prancis, sekaligus mempercepat realisasi investasi dan perdagangan antara kedua negara.
Peluncuran dewan bisnis tingkat tinggi tersebut dilakukan pada 28 Mei 2026 di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam rangkaian kunjungan resmi kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis.
“Pembentukan France–Indonesia High Level Business Council merupakan tonggak penting dalam memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara. Forum ini tidak hanya menjadi wadah dialog antara pelaku usaha, tetapi juga menjadi mesin penggerak untuk mendorong investasi, perdagangan, dan kerja sama strategis yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara,” kata Rosan dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, (30/5/2026).
Forum bisnis tersebut mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dari Indonesia dan Prancis dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai US$ 1,3 triliun atau Rp 23.171 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.820). Dewan bisnis dipimpin bersama oleh Chair France–Indonesia Business Council MEDEF International sekaligus CEO Danone, Antoine de Saint-Affrique, dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.
Rosan mengungkapkan, momentum peluncuran dewan bisnis tersebut turut menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai US$ 3,5 miliar atau Rp 62,38 triliun yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
“Kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia terus meningkat. Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif,” kata Rosan.
Target Total Perdagangan
PerbesarPeluncuran dewan bisnis tingkat tinggi tersebut dilakukan pada 28 Mei 2026 di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
Rosan menuturkan, keberadaan dewan bisnis ini juga akan berperan penting dalam mengawal implementasi berbagai nota kesepahaman dan komitmen investasi yang telah disepakati sebelumnya. Pada kunjungan kenegaraan Presiden Macron ke Indonesia pada Mei 2025, tercatat sebanyak 27 MoU ditandatangani dengan nilai lebih dari USD 11 miliar atau Rp 196,06 triliun.
“Yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh komitmen tersebut dapat direalisasikan. Karena itu, forum ini akan menjadi sarana untuk mengidentifikasi hambatan, mempercepat penyelesaian berbagai kendala, dan memastikan investasi berjalan optimal,” lanjutnya.
Dewan Bisnis Indonesia–Prancis menargetkan peningkatan total perdagangan kedua negara hingga tiga kali lipat pada 2035. Dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia dan Prancis, Kadin Indonesia dan MEDEF International akan terus memperkuat koridor ekonomi bilateral guna membuka peluang kerja sama baru di berbagai sektor strategis.
“Kami optimistis hubungan ekonomi Indonesia dan Prancis akan semakin kuat. Kolaborasi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing kedua negara di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Rosan.
