Pengamat Ungkap Rupiah Sempat Menguat Efek Kebijakan Devisa Hasil Ekspor

BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami peningkatan pada perdagangan Senin (1/6/2026) meski aktivitas pasar domestik berlangsung di tengah periode libur. Mata uang rupiah ditutup menguat ke level Rp 17.805 per dolar Amerika Serikat (AS), rebound setelah pada akhir pekan sebelumnya berada di posisi Rp 17.881 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa penguatan rupiah hari ini terkait dengan penerapan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan dana hasil ekspor ditempatkan di perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). “Yang membuat Rupiah Senin mengalami penguatan pada saat libur, itu adalah tentang masalah penerapan aturan baru DHE yang harus terparkir di perbankan Himbara,” kata Assuaibi dalam wawancara dengan beritalokal.my.id, Selasa (2/6/2026).

Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah hari ini didorong oleh sentimen positif dari penerapan aturan baru DHE. Kebijakan tersebut diyakini mampu meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri, yang berdampak pada pergerakan rupiah. Pada perdagangan Senin kemarin, dolar AS sempat mengalami pelemahan, namun kondisi tersebut tidak bertahan lama karena mata uang Negeri Paman Sam kembali mendapatkan dukungan sehingga mampu berbalik menguat.

“Ketika saya lihat bahwa dalam perdagangan hari ini dolar itu menguat, terjadi give up. Sempat juga tadi mengalami pelemahan di 35 poin, tetapi langsung kembali menguat bisa saja. DHE ini sangat berpengaruh, walaupun nanti secara teknis saya belum tahu,” ujarnya.

Selain itu, Assuaibi menegaskan bahwa tekanan eksternal masih menjadi risiko utama bagi rupiah. Perhatian pasar global tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, khususnya soal kesepakatan senjata dan isu uranium. Ia memperkirakan kemungkinan nota kesepahaman antara kedua negara tersebut akan ditolak oleh pihak AS, yang berpotensi memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global.

“Kemungkinan besar nota kesepahaman antara kedua negara ini akan ditolak oleh Amerika. Dan ini yang membuat Rupiah ini kemungkinan dalam perdagangan besok, di hari Selasa pada saat pembukaan pasar di Indonesia, kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan,” pungkasnya.

Dengan demikian, meski rupiah menguat hari ini, pergerakannya masih tergantung pada dinamika global yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Artikel Terkait

0