BeritaLokal, Jakarta – Penampilan Olivia Rodrigo di Billions Club Live with Olivia Rodrigo: A Concert Film mengejutkan publik dengan pakaian yang memicu kritik keras. Pada pertunjukan tersebut, ia mengenakan gaun babydoll motif floral pendek, ditambah boots tinggi yang menutup sedikit bagian kakinya. Kritik terhadap kostum ini justru muncul sebagai sorotan dari publik, meski tidak terkait performa akademi-nya.
Selain itu, Olivia menyampaikan tanggapan langsung di podcast The New York Times sehari setelah pertunjukan. “Itu membuatku kesal banget,” katanya, mengingat kritik yang menuduh ia tampil seperti kanak-kanak dan melakukan seksualisasi diri. Ia menyebut pakaian yang dikenakannya, termasuk bra berkilauan dan celana pendek, sebagai hal yang “mungkin terbuka di atas panggung,” sementara ia menegaskan haknya untuk memilih gaya pakaian sesuai preferensi.
Kritik tersebut tidak hanya bersifat kritis, tetapi juga mengandung retorika sosial. Olivia menyebut bahwa ada pesan yang selama ini meneruskan kepada anak-anak: jangan berpakaian seperti itu karena bisa disalahartikan sebagai eksplorasi seksual. Ia menegaskan bahwa ia tidak merasa seksi dari pakaian tersebut, melainkan keren dan nyaman. “Aku tak merasa aku kelihatan seksi mengenakannya,” katanya.
Ia juga membantah anggapan bahwa kostum ini terlihat seksi, menyebut sejumlah artis seperti Kathleen Hanna, Bikini Kill, dan Courtney Love juga tampil dengan gaya serupa. “Orang-orang ini adalah para pahlawanku,” kata Olivia. Pernyataan ini menunjukkan kesadaran ia tentang peran kreatif dalam mendorong kebebasan ekspresi seni.
Di akhir wawancara, Olivia menyampaikan pesan penting: “Kalau kita mulai berpakaian dengan gaya seperti, ‘Aku enggak mau ada orang aneh yang berpikir bahwa aku seksi seperti bayi’, atau hal aneh lainnya, aku merasa intinya sudah mulai hilang.” Ia menekankan kepedulian terhadap perempuan muda dan mengingatkan bahwa kesadaran akan kritik seksual harus dijaga untuk membangun budaya yang lebih inklusif.
Kritik terhadap pakaian Olivia tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga mencerminkan isu global tentang kebebasan ekspresi dan perhatian terhadap kesehatan mental wanita. Dengan menggabungkan narasi personal dan konteks sosial, pertunjukan ini menjadi simbol penting dalam memperkuat kesadaran akan hak-hak individu di tengah masyarakat yang seringkali menilai pakaian sebagai indikator kegemarannya.
Artikel Terkait
Haruka Nakagawa Jadi Food Vlogger, Jelajahi Selera Kuliner
28 Juli 2026
Suri Noelle Resmi Ganti Nama Tak Lagi Tom Cruise
28 Juli 2026
Kisah Nyata Pagi Drama Tawa Air Mata Setiap Pagi di Indosiar
28 Juli 2026
Konser Radja 25 Tahun Mencuri Lagu Bersama Charly & Andika
28 Juli 2026
Spider-Man Brand New Day Tom Holland & Zendaya Blue Carpet
28 Juli 2026
Sinetron Lautan Cinta Episode 37: Satria Bangkit Kembali
28 Juli 2026
Festival K-Culture HYBE, JYP, SM, YG Siapkan Coachella
28 Juli 2026
Kira Sehari-hari Gemoy di Dangdut Academy 8
28 Juli 2026
Memuat komentar...