Nayla Purnama Memukau Jadi Dua Karakter di ’12 IPA 4

BeritaLokal, Jakarta – Peran Ganda Nayla Purnama di Serial 12 IPA 4, Sampai Belajar Dance Terinspirasi TWICE segera menjadi sorotan kepada para penggemar drama web setelah produk WeTV yang diproduksi Unlimited Production berujung pada air mata tertawa di set. Aktris yang sebelumnya dikenal lewat sukses film box office Vina: Sebelum 7 Hari kini harus memakai dua jubah sekaligus: Hana, sosok tenang yang mengikuti jalur yang ditetapkan, dan Hanin, sang dagang yang menuntut keberanian dalam setiap langkah. Melalui pertunjukan ini, Nayla memaparkan dimensi berbeda dalam satu tubuh, menantang penonton untuk mengenali ketegangan antar karakter yang saling terhubung.

Tantangan Peran Dua Karakter

Pada wawancara di Jakarta Selatan pada 20 Juli 2026, Nayla dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana dia menembus perbedaan yang tajam antara Hana dan Hanin. Ia menjelaskan bahwa Hana cenderung reaktif, lebih suka berfokus pada rutinitas, sementara Hanin memargoni idealisme dan ambisi lewat energi yang menyala seperti lampu panggung. “Suatu saat, ketika kami berdua berada di satu set, saya hampir lupa peran mana yang saya mainkan,” ungkapnya. Menurutnya, perempat adegan berurusan dengan karakter yang satu tidak memerlukan adanya kehadiran kedua peran bersamaan, memudahkan transisi spontan tanpa memicu kebingungan.

Dansa, ASL, dan Inspirasi K-pop

Kebutuhan untuk menghidupkan Hanin, yang terlihat menari dalam banyak adegan, mengharuskan Nayla kembali berlatih akting namun juga menari. Ia mengingat masa SMA, saat ia terjun aktif dalam ekstrakurikuler menari, sebuah pengalaman yang menjadi “bekal kuat” ketika berperan sebagai penari. “Saya tidak pernah memiliki dasar. Menari bagi saya seperti bahasa baru yang harus dipelajari dari nol,” ujarnya. Untuk memperkaya motion dan menemukan nuansa ritme, Nayla menonton berbagai konten K‑pop. Di antara artis favoritnya adalah TWICE, yang memelihara gambar gaya raptur yang “memundut saya menari sampai tak sadar.” Inspirasi tersebut membantu Nayla menambahkan sentuhan khas di gerak Hanin yang dinamai “Dance Terinspirasi TWICE.”

Di sisi lain, serial menampilkan penyisipan bahasa isyarat ASL (American Sign Language) bernama Forever Together. Nayla dan sutradara Dinna Jasanti melalui serangkaian diskusi intens memutuskan gerakan isyarat yang dioptimalkan ke dalam skrip. Satu highlighted sign dari bahasa isyarat umum, “I Love You,” dipilih karena familiar bagi penonton internasional. Setelah itu, gerakan tambahan seperti “family,” “always together,” serta “forever” sengas diolah agar terpadu secara estetika.

Selain itu, peran besar dalam menggarap karakter yang bertransformasi datang dari produser Oswin Bonifanz. Ia menegaskan bahwa serial ini berbasis cerita masa SMA lama yang triptikan di berbagai aspek kehidupan remaja Indonesia. Kolaborasi Unlimited Production dan WeTV menekankan “kini kisah ini tidak terlewati di layar kebisuan.” Dalam satu barak, Junior Roberts dan Sandy Pradana hadir sebagai narasi pendukung yang melengkapi dinamika hubungan persahabatan.

Dalam enam belas bulan produksi terakhir, Nayla mengumpulkan pertunjukan yang memukau, dengan mekanisme adaptasi peran dua karakter. Proses latihan tunnel vision, beralih antara gaya senior dan energi anak muda, menuntut kepiawaian bukan hanya dalam akting namun juga dalam pangsa pikiran. Kendati sering ditegur sutradara yang menegaskan “eh jangan terlalu pecicilan, ini Hana,” Nayla tetap konsisten memelihara ketidaksetujuan untuk memperajari kedalaman setiap watak. Penyampaian karakter yang autobiografis memberi motivasi lebih bagi ayunan penonton yang berkisar usia mereka di kalangan remaja.

Akhirnya, ketika 12 IPA 4 memantapkan definisi karakter dan penampilan visual, kesadaran akan pentingnya mengambil inspirasi dari budaya yang berbeda, seperti K‑pop dan ASL, terasa merasuk. Penekanan ini tidak hanya menjadi pendorong belajar bagi aktor, tetapi juga memberikan ruang bagi nuansa budaya internasional dan menambah daya tarik lintas bangsa. Melalui penggunaan gerak dan isyarat ini, serial tidak hanya menampilkan remaja yang penuh emosi, namun juga menyertakan pesan frat bond yang tak hanya dialog, melainkan gerakan yang tercipta dari lahirnya tangan yang menulis skrip visual.

Artikel Terkait

0