Indonesia Kejar Energi Bersih Kuadrat di GHES 2026

BeritaLokal, Jakarta – Bahlil Sebut Indonesia Bisa Hasilkan Energi ‘Bersih Kuadrat’, Apa Artinya? Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengemukakan konsep unik tersebut dalam sambutannya di Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, di JICC Senayan. Di sana ia menegaskan bahwa Indonesia, mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto, memiliki kapasitas untuk memproduksi energi bersih secara intensif dan terintegrasi, yang ia sebut “bersih kuadrat”. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat transisi energi dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan, sekaligus mempersiapkan target net‑zero emisi karbon pada tahun 2060.

Pembangunan PLTS 100GW

Pada pertemuan GHES, Bahlil menjelaskan langkah konkret yang tengah dilaksanakan, yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 GW bersama PT PLN (Persero). Ia menekankan bahwa PLTS tersebut akan menjadi fondasi untuk memproduksi hidrogen lewat elektrolisis air, proses yang melibatkan listrik bersih. “Hasilnya tidak hanya energi listrik bersih, namun juga hidrogen bersih, sehingga sendiri proses dan produk bersih‑lebih bersih-itu yang kami sebut bersih kuadrat,” ujarnya. Dengan skala 100 GW, Indonesia berpotensi menghasilkan miliaran kilogram hidrogen per tahun, yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan besar, material industri, maupun penyimpanan energi.

Di balik proyeksi ambisius itu, Bahlil menyoroti pentingnya sinergi teknologi dan regulasi. Ia mengingatkan bahwa PLTS 100 GW masih menjadi visi jangka menengah; fase awal adalah pembangunan infrastruktur listrik bersih, kemudian diikuti dengan penelitian dan pengembangan teknologi hidrogen terbarukan. Kondisi pasar, termasuk harga BBM non‑subsidinya, masih menantang. Ia sekali lagi menegaskan bahwa “Bahlil Sebut Indonesia Bisa Hasilkan Energi ‘Bersih Kuadrat’, Apa Artinya?” seolah menjadi mantra bagi arsitektur energi masa depan Indonesia.

Biaya Hidrogen vs BBM

Mengenai aspek ekonomis, Bahlil bersikap realistis. Dalam sesi diskusi di GHES, ia menyatakan bahwa biaya operasional kendaraan besar berbahan hidrogen masih lebih tinggi dibandingkan bahan bakar diesel B50 non‑subsidisi. Angka yang ia sajikan, yakni sekitar Rp 18.600 per liter diesel, harus dihadapi ketika satu liter hidrogen bisa menghasilkan hanya 3,5‑4 km-kondisi yang membuat penyebaran hidrogen masih terbelakang. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa dinamika geopolitik dan harga minyak global kini berpihak pada harga hidrogen yang akan segera menurun. Menurutnya, “bila teknologi yang tepat ditemukan, harga hidrogen akan sangat kompetitif dibandingkan BBM minyak lainnya dalam waktu dekat.”

Bahlil juga membayangkan masa depan kendaraan hidrogen yang dapat bersaing dengan kendaraan listrik. Ia percaya bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, hidrogen bisa menjadi alternatif yang layak secara teknis dan ekonomis. “Keyakinan saya paling lambat 5‑10 tahun, hydrogen akan menyaingi kendaraan listrik berbasis baterai,” tegasnya, menandakan pergeseran paradigma energi yang lebih berkelanjutan. Penekanan pada efisiensi dan penurunan biaya tetap menjadi jantung strategi pemerintah, dengan harapan bahwa baja, konduktivitas, dan enzim alam dapat saling melengkapi dalam proses produksi energi bersih.

Pada pidatonya, Bahlil melanjutkan pandangan bahwa transisi energi bukan sekadar kebijakan, tapi juga sebuah peluang industri. Ia menggambarkan gambaran “bersih kuadrat” sebagai sinergi energi terbarukan, pencapaian net‑zero, dan pertumbuhan ekonomi hijau. Mendorong implementasi proyek PLTS 100 GW, serta kolaborasi lintas sektor, menjadi titik pusat perbincangan. Di antara solusi yang dia jabarkan, pentingnya dukungan regulasi, investasi, dan riset teknis diangkat sebagai pilar keberhasilan transisi.

Melalui pembicaraan di GHES, Bahlil menegaskan determinasi Indonesia untuk tidak hanya mengadopsi, tapi juga memimpin inovasi energi. Ia secara jelas menegaskan kepercayaan bahwa, meskipun tantangan biaya dan teknologi masih ada, Indonesia memiliki sumber daya manusia, keanekaragaman sumber daya alam, dan kebijakan yang mendukung untuk meraih ambisi energi bersih kuadrat. Ini adalah wujud komitmen nasional untuk menjawab tantangan iklim sekaligus memaksimalkan potensi pembangunan ekonomi.

Pada akhir sesi, air mata dan antusiasme bersatu dalam satu momen. Bahlil menutup pidatonya dengan kata‑kata motivasi, menyerukan dukungan semua pemangku kepentingan-pemerintah, swasta, dan masyarakat-tofa. “Ayo kita wujudkan Indonesia yang bisa menghasilkan energi bersih kuadrat, karena masa depan bumi berada di tangan kita,” gumamnya, menandai angka‑angka dan komitmen yang menyatu dalam satu visi.

Artikel Terkait

0